Hidup itu Memberi, baru Bahagia.


83151765

Ada yang mengusik batinku, pagi ini. Sayup-sayup suara mengatakan aku harus berbagi tentang sesuatu yang kudapat akhir-akhir ini dan kemarin sebagai penegasannya.

Selama ini kita mungkin berpikir, mempunyai pasangan, sahabat atau orang-orang yang kita cintai itu sudah cukup. Aku pun pernah merasa mempunyai sahabat-sahabat yang aku kasihi, itu sudah cukup bagiku dan aku sangat nyaman sekali. Namun satu saat TUHAN mengobrak-abrikkan itu semua. Sahabat-sahabatku tidak mungkin lagi punya banyak waktu lagi buatku. Mereka punya porsi dan pilihan hidup. Ada kalanya Tuhan ingin kita tahu sesuatu: TUHAN adalah SEORANG YANG ENGGAK PERNAH MENINGGALKAN KITA SEDETIKPUN. Itu benar, saat aku merasa sendirian, aku malah merasa TUHAN yang senantiasa pegang tangaku dan menopangku.

Orang-orang yang kita cintai pun BISA MENGECEWAKAN BAHKAN MENINGGALKAN KITA. Tapi emang itulah, kita tidak bisa menuntut mereka memberikan kasih dan cinta yang besar buat kita. Ekspektasi kita yang terlalu besar memang akan selalu mengecewakan. Lalu bagaimana? Kita pun butuh dipuaskan. Kita ingin dicintai. Kita tentu ingin selalu diperhatikan oleh pasangan kita, sahabat atau keluarga. Satu hal yang kudapat : Kita bisa MENDAPATKAN SEMUA ITU DI DALAM TUHAN. DIA BISA MEMUASKAN CINTA KITA. DATANG dan DEKAT PADA TUHAN, PUNYA HUBUNGAN YANG BAIK DENGAN TUHAN, TIDAK AKAN PERNAH MEMBUAT KITA MERASA SENDIRIAN, MERASA DITINGGALKAN, MERASA TIDAK DICINTAI apalagi punya perasaan benci pada sesama (dendam malah lebih seram).

Ketika kita sudah merasa dipuaskan oleh cinta Tuhan, kita tidak akan pernah merasa kecewa pada siapapun. Pasangan yang mengecewakan, pasti bisa kita maklumi (setiap manusia berpotensi untuk mengecewakan). Sahabat yang meninggalkan kita atau bahkan malah memusuhi kita, bisa kita ampuni. Orang-orang yang tidak memedulikan kita, bisa kita pedulikan. Kita harus PROAKTIF MEMBERI PADA SESAMA. Melakukan lebih dulu, mengasihi lebih dulu maka itu akan bisa membuat kita bahagia. Kita tidak lagi hidup dalam tuntutan, “Mengapa pasanganku tidak pernah ingat hari spesial?” “Mengapa sahabatku enggak mau peduli sama aku?” “Mengapa orang tuaku tidak pernah ngerti aku?”  “Mengapa aku selalu kesulitan duit?TUHAN enggak adil?!”

Tuntutan seperti itu akan bisa kita selesaikan dengan, “Tuhan sudah mencintai aku dengan cinta yang besar, sekarang aku harus mencintai sesamaku…”

200391703-001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s