“Di mana rak sabar?”


Lampu lalu lintas yang berwarna hijau kini telah berubah makna, yaitu tanda untuk membunyikan klakson. Kita semua tahu sebenarnya bahwa fungsi lampu lintas berwarna hijau itu adalah tanda kendaraan untuk berjalan namun karena saking tidak sabarnya maka jika dalam hitungan sepersekian detik saja tidak berjalan maka bunyi klakson saling bersahutan.

Memang Kita kini ada di era serba cepat. Semua ingin serba cepat. Ada mi instant, ada Mobile Banking, ada Delivery Service dan berbagai fasilitas yang tidak perlu menunggu lama. Ada banyak hal yang positif dan memacu motivasi kita sebenarnya di era serba cepat ini. Namun semuanya itu berpengaruh kepada Kita secara pribadi, disadari atau tidak. Di saat semua serba cepat maka kesabaran juga seperti sebuah barang langka di era digital saat ini. Kesabaran ada batasnya, kalau kata orang-orang masa kini. Kalau tidak cepat, mana bisa sabar?

Seorang kawan pernah menulis di twitter, di mana mencari kesabaran? Saya menjawab dengan bercanda, coba aja cari di toko serba ada. Lalu dia bertanya kembali, di mana rak kesabaran di toko serba ada itu? Dia ingin membelinya. Mendapat pertanyaan ini saya menjadi merenung selama berhari-hari. Apa benar toko serba ada masa kini perlu menyediakan rak kesabaran yang bisa dibeli? Ketika kita mulai tidak sabar kita tinggal mendatangi rak itu dan membeli sabar sehingga kita tidak kehabisan persediaan sabar.

Rak Sabar-Ilustrasi Christian Pramudia

Saat merenungkan tentang kesabaran ini, sore tadi saya melihat sebuah film pendek berjudul Walker, karya Tsai Ming-liang. Karya-karya Tsai Ming Liang memang tergolong berbeda dari karya sutradara kebanyakan. Dia suka menuturkan sebuah cerita dengan penataan kamera dengan satu sudut pandang. Jadi kita seperti melihat sebuah panggung dan bebas melihat semua sisi, bagai sebuah foto dalam bingkai yang bergerak tanpa berganti sudut pandang. Termasuk film pendeknya Walker ini yang menunjukkan seorang biksu yang berjalan dengan gaya lambat sekali sementara orang-orang di sekitarnya seperti biasanya. Ada yang cepat berjalan dengan terburu-buru, ada yang melakukan aktifitas seperti biasa sementara biksu ini sengaja melambatkan semua gerakannya. Tak jarang orang-orang di sekelilingnya melihatnya dengan heran.

Bagi saya, tentu film pendek ini bukan mengajarkan sebaiknya berlambat-lambat saja dalam melakukan apapun. Namun hati saya menjadi tersentak, jiwa saya menjadi bertanya kepada kedalaman hati. Gerakan lambat itu adalah sebuah proses seorang manusia yang sabar akan proses di dalam kehidupan. Saat apa yang kita inginkan tidak kunjung datang, kita tetap sabar menanti yang terbaik dari Sang Khalik. Saat orang-orang di sekitar kita tiba-tiba menjadi sangat menyebalkan, tetap sabar menghadapi mereka. Saat kehidupan terasa membosankan bahkan saat kita ada dalam kondisi terpuruk sekalipun, kita berusaha sabar untuk terus bangkit dan tidak menyerah.

Kesabaran adalah wujud kita melihat sebuah proses. Kesabaran adalah langkah nyata menanti dengan tetap melakukan hal-hal terbaik.

Saya diajar banyak mengenai kesabaran. Bahkan saya menyebut proses saya hidup selama ini seperti naik anak tangga. Satu per satu, tahap demi tahap, semua ada langkahnya yang sudah disiapkan. Saya tentu sering jatuh dan gagal dalam proses sabar itu. Namun saya berusaha bangkit lagi dan terus bangkit lagi. Sabar menanti jawaban atas doa-doa saya, sabar menghadapi orang-orang yang selalu tidak sabar dan sering marah-marah, sabar terhadap diri saya sendiri yang sering gagal dalam banyak hal. Bukankah Sang Khalik juga selalu sabar mengahdapi kerewelan dan keribetan saya selama ini? Tidak bisakah saya sedikit saja bersabar juga? Itu yang selalu saya ingat jika saya mulai tidak sabar akan hal apapun.

Jadi di manakah letak rak sabar itu? Saya mendapatkan sedikit pencerahan dari Sang Khalik bahwa :

Sabar itu bukan dicari tetapi diusahakan.

Advertisements

Murid-Murid SD Saya Adalah Guru Saya


Sudah 4 tahun ini saya mengajar ekskul Radio Broadcast di sebuah SD di Surabaya. Pertama kali saya agak ragu ketika diminta kepala sekolah untuk mengajar mereka. Memang saya sudah terbiasa satu tahun sebelumnya untuk mengajar SMA namun bagi saya mengajar anak SD itu lebih sulit. Bukan hanya kemampuan materi saja namun kondisi mental saya juga harus disiapkan. Bagaimana saya bertutur kata dan bersikap akan selalu diingat mereka.

Saya berpikir demikian karena sampai usia saya sekarang saya mengingat beberapa perkataan guru gambar saya saat SD yang mengena di hati. Itu tidak saya sadari memengaruhi pola pikir saya (lain waktu saya bagikan). Setelah saya pertimbangkan matang akhirnya saya menerima tawaran itu sampai tak terasa sudah 4 tahun saya menikmatinya.

Satu yang paling saya rasakan saat mengajarkan bagaimana bersiaran kepada anak-anak SD adalah : harus sabar mengikuti proses mereka. Bisa cepat namun tak jarang lama sekali. Mengajarkan teknik bersiaran kepada anak-anak harus dimulai dengan menanamkan rasa cinta terlebh dahulu kepada mereka. Pendekatan yang saya lakukan adalah dengan mengajak mereka bermain terlebih dahulu karena anak-anak senang bermain daripada belajar tentunya. Pelan-pelan masuk dalam kesenangan mereka sampai mereka benar-benar mencintai itu baru masuk ke materi.

Pengalaman mengajarkan saya bahwa memberi materi kepada anak-anak SD itu lama dan harus bersusah payah di awal, harus sabar dengan proses mereka. Namun sekali mereka bisa dan sesuai standar yang saya harapkan, anak-anak SD akan cenderung stabil menerapkan apa yang saya ajarkan kepada mereka.

chrispramudiastudent

Secara teknis saya mengajarkan cara bersiaran di radio untuk anak-anak kepada mereka. Namun secara batin, saya yang belajar banyak sekali dari mereka. Murid-murid ekskul saya itu adalah guru saya. Kehidupan ini seringnya membuat kita penat dan lupa untuk tertawa. Tak jarang kita pun lupa untuk bersenang-senang bahkan dengan cara yang sederhana sekalipun.

chrispramudiastudent2

Masalah di masa kini dan masa depan yang terlampau ingin kita capai, membuat kita lupa untuk tersenyum dan mengucap syukur pada apa yang telah kita terima hari ini. “Menikmati” apa saja yang ada di hadapan kita, itu yang sampai sekarang saya perlu belajar pada murid-murid SD saya ini.

chrispramudiastudent3

Lihat betapa nikmatnya mereka bersenang-senang. Ada satu murid yang suka membuat robot, baik dari kertas maupun mainan rangkai. Betapa kreatifnya dia membuat bentuk apa saja. Saya mengaguminya.

Bagi saya kenikmatan dan rasa bahagia yang kita rasakan saat kita sedang belajar itu nomor satu karena dapat memicu kreatifitas. Karena kreatifitas dapat membuat kita terus hidup 🙂

chrispramudiastudent4

Mendengarkan Memberikan Ruang Imaji


Saya terkesan dengan salah satu tokoh bernama Chang dalam film karya sutradara Wong Kar Wai “Chun Gwong Cha Sit” (Happy Together, 1997) dan tidak pernah bisa lupa. Tokoh Chang tidak terlalu penting dalam film itu namun satu karakternya yang membuat saya terkesan.

chang 3 in happy together

Dalam satu scene dia bercerita kepada tokoh utama bahwa saat kecil dia mengalami kelemahan dalam penglihatannya. Dia tidak bisa melihat dengan jelas. Sejak itu dia berusaha mengoptimalkan inderanya yang lain yaitu indera pendengaran. Saat kecil dia membiasakan diri untuk mendegarkan lingkungan sekitar. Sampai akhirnya mata Chang berangsur-angsur sembuh dan dia bisa melihat dengan normal kembali. Namun dia tidak menghentikan kebiasaanya untuk mendengarkan. Dia selalu memejamkan mata, berkonsentrasi mendengarkan lingkungan sekitar.

chang in happy together

Saat bercerita demikian, Chang juga membuktikan kemampuannya mendengarkan ini. Pembicaraan apa yang sedang berlangsung di meja seberang mereka. Chang lalu mulai memejamkan mata dan menirukan pembicaraan orang di seberang meja dan mengatakan tak berapa lama mereka akan berkonflik dan memang benar terjadi setelah itu.

chang 2 in happy together

Ternyata malam itu adalah malam terakhir Chang ada di situ, dia punya cita-cita pergi ke suatu tempat. Maka dia ingin merekam suara tokoh utama, sebagai teman kerjanya selama ini untuk dia simpan sebagai kenang-kenangan. Dia tidak suka menyimpan foto namun dia lebih menikmati mendengarkan rekaman suara teman-temannya atau lingkungan sekitarnya.

“Kebiasaan mendengarkan” ini tentu sangat menggugah di jaman serba audio visual. Orang tidak lagi suka berimajinasi hanya dengan suara. Pergi ke suatu tempat yang dilakukan pertama kali adalah memotret tempat itu, berfoto bersama teman dan mengunggahnya di sosial media. Suara hanyalah sebuah ruang imaji yang hanya ditemukan di media radio. Mana ada sekarang orang yang menyimpan suara temannya, yang ada menyimpan foto sebagai kenangan, kan?

Dalam hidup kita khususnya di era serba digital ini menurut saya, kebiasaan mendengarkan butuh untuk dikembangkan kembali bahkan diasah. Di saat semua ingin didengarkan lantas siapa yang mau mendengarkan. Di saat semua ingin “bersuara” lewat media publik atau sosial media, lantas apakah kita masih punya waktu dan menyimpan ruang khusus untuk mendengarkan?

Saya pribadi adalah orang yang sangat menikmati sekali “mendengarkan” meskipun pekerjaan sehari-hari dituntut untuk selalu berbicara. Namun mendengarkan punya kenikmatan tersendiri untuk saya. Saya pernah ‘puasa sosial media’, tidak menulis twitter dalam satu minggu. Karena saya ingin mengendalikan diri dalam “berkicau”. Saya ingin merasakan bagaimana menjadi seorang “pendengar” di twitter, hanya membaca dan memantau apa yang ditulis orang lain tanpa berkomentar sedikitpun. Saya belajar banyak sekali dari proses “mendengarkan” ini.

Mendengarkan memberikan ruang tersendiri dalam hidup kita untuk merenung dan menyadari hal-hal yang hilang di dalam hidup. Mendengarkan memberikan kita kesempatan untuk belajar dan merelakan hati untuk diam sejenak. Mendengarkan memberikan ruang imaji yang tinggi yang membawa kita ke ruang-ruang pengertian yang tidak bisa dimengerti oleh orang yang hanya berbicara saja. Mendengarkan memberikan kita inspirasi untuk hidup lebih baik. 

Berani mendengarkan?

Berapa Kebahagiaan Jatuh Dari langit?


Berapa jumlah awan di langit?
Tentu ini membuatmu mengernyit
Bisa kau hitung berapa gunung dengan batu Granit?
Tentu jawabannya sungguh sulit

Sama seperti rasa makananmu yang tak semua legit
Bisa saja sebagian besar pahit
Sama seperti munculnya rasa sakit
Bisa saja tak semua rasanya sulit

Berapa kebahagiaan yang jatuh dari langit?
Atau sempatkah kau hitung masa-masamu pailit?
Penderitaan tak selamanya hanya sedikit
Kesenangan tak selalu bunyinya berderit

Ketidakpastian menjadi kawan bersembunyi di parit
Musuh bisa datang kapan saja membawa celurit
Sahabat menolong kapan saja membawakan arit
Merapal doalah setiap saat meski tanpa komat-kamit

Semua yang ada di sampingmu akan selalu menjadi sulit
Jika yang kau pegang hanya iman yang alit
Genggam harapan penuh jangan hanya sebulan sabit

 

~ Christian Andhika Pramudia~