Jelaga (cerita pendek)


image

Aku tak pernah bercita-cita menjadi tua. Takut kalau-kalau penyakit mendatangiku saat renta. Hanya saja, bolehkah tetap kunikmati bahagia? Meski hanya saat-saat muda. Kupikir itu akan memberiku rasa lega. Hingga suatu hari aku mendapatkan beragam rasa tanpa jelaga. Aku hendak menyambut segala cerita.

Hidup mungkin tak dapat memilih bahagia saja. Tak dapat pula terus menerus duka. Apalagi kekuasaan durjana. Segala asa dan rasa menjadi adonan yang siap tersaji di meja. Pilihanku adalah tetap menikmatinya. Entah asin atau manis karena terlalu banyak gula. Memangnya ada yang bisa memberi penjelasannya?

Kebahagiaan bisa kita rasa di awal jumpa. Bahagianya bisa berwarna-warni seperti pelangi di langit sana. Namun sama seperti pelangi, tentu dia bisa pergi dengan cepatnya. Tak ada lagi warna-warni yang bisa kita amati indahnya. Namun begitulah berputarnya dunia. Ada waktu berpisah tentu ada awalnya berjumpa. BAH!

Seringnya kita protes kepada Sang pemilik dunia. Seolah kitalah sendiri yang paling berduka. Getir, takut, kuatir, susah, gencatan, hinaan, lambaian, dentuman sampai marah yang membara. Ada ketidakadilan bersanding dengan keadilan yang sengaja ditata. Aku, mungkin kamu juga merasa tidak pernah menemukan jawabannya. Apa perlu aku berteriak-teriak dengan lantangnya? Luka seringnya bercampur dengan apa yang kita sebut bahagia juga.

Kisahku bisa menjadi sebuah cerita. Hanya, jangan kau gunjingkan ke sini, ke sana. Aku rela duduk bersamamu berlama-lama. Kuceritakan rasa lukaku dan tentu bahagiaku yang pernah kurasa. Duduklah dekat-dekat, aku janji akan kuceritakan semuanya. Sekali lagi, usahlah kau pergunjingkan dengan bumbu-bumbumu yang aduhai pedasnya. BAH!

Pada mulanya adalah bahagia. Bahagia, bahagia dan bahagia. Aku melihat pelangi yang membusur dengan indahnya. Pelangi yang datang setelah hujan lebat mendera. Maka aku tersenyum hingga bergirang saking bahagianya. Belum pernah kutemui dan kujumpai rasa senang yang memuncak tak terhingga. Saat itu, aku merasa menjadi perempuan paling bahagia.

Akulah budak belian yang saat itu paling belia. Dia hampiriku dan menyapaku dengan sinar menyala. Dia beriku harapan baru gantikan hidupku yang lama. Dia, satu-satunya lelaki yang memercayaiku kembali ke dunia. Kupikir, aku hampir mati dan membusuk di neraka. Nyatanya, dia bawaku kembali melihat harapan yang masih ada. Iya, masih ada harapan yang menyala.

“Perempuan jalang,” labelku yang dia hapus dengan nyata. Dia satu-satunya lelaki yang mau menikahiku dengan gilanya. Tentu aku ragu, yang dia lakukan itu cinta. Dalam segala perjuangan dan segala usaha. Dia berhasil membuatku percaya. Kami memulai sebuah bahtera. Lautan kami sebrangi, daratan kami  jelajahi bersama.

Bertahun-tahun kami berpetualang dalam berbagai rasa. Meski tanpa buah hati, ku tahu dia tetap bersamaku dengan setia. Hingga pada musim paceklik, minggu kedua. Datang sebuah kabar berita. Inilah musim kemarau paling gelap gulita. Entah lebih gelap mana dibanding hidupku yang lama. Aku merasa sangat sakit seperti tertimpa seluruh dunia.

Kini, kau tahu rasa perihku yang nyata? Tak lagi dia mencintaiku apa adanya. Perempuan lain telah membuatnya tergoda. Bahkan tak butuh seekor ular beludak untuk membujuknya. Suamiku datang sendiri dan merayunya. Aku ditinggalkan dengan duka merana. Lupakah ia dengan cintanya kepadaku mula-mula?

Bukan sekadar gundah gulana. Rasa sakitku tak sama dengan cemburu buta. Ini seperti berjalan tanpa gravitasi dunia. Aku kehilangan arah dan tak dapat memahaminya. Siapa kini, lelaki yang dapat kuraih lengannya? Dia yang memberiku terang, kini hampir mematikan lagi nyalanya. Aku tak berdaya.

Dalam kegelapan, aku berusaha kembali mencari cahaya. Cahaya yang sama seperti dulu yang membawaku melihat dunia. Kini, harapanku bukan lagi suamiku yang kucinta yang telah pergi meninggalkanku begitu saja. Harapanku berusaha kunyalakan lagi sekuat tenaga. Hal yang kusadari, manusia tetaplah manusia. Aku, isteri Pendeta yang sedang kecewa. Berusaha melihat Cahaya sejati yang pernah membawaku hidup kembali hingga aku benderang lagi dalam sinarNya.

Hujan, Jangan Datang Dulu Malam Ini


image

Hujan, jangan datang dulu malam ini
Karena saat kamu datang, aku selalu sepi
Rindu menanti yang tak kunjung kembali
Sementara kerling mataku tak dapat lagi menyinari

Hujan, jangan datang dulu malam ini
Karena saat kamu datang, aku selalu menepi
Kalau-kalau dia mau mendatangi
Memancing penasaran maka aku menari

Hujan, jangan datang dulu malam ini
Beri rembulan waktu menonjolkan diri
Biar aku juga senang menanti
Dia,yang sudah lama terbang kesana-kemari

Hujan, jangan datang dulu malam ini
Beri aku waktu sekali lagi
Biar kugambar dulu wajahnya hingga ujung kaki
Dia yang belum ku tahu dengan pasti

Menuju


Lari-lari bukan karena kepalang basah
Lari-lari karena sedang mencari

Dari mana datangnya resah?
Dari mencari hingga habis matahari

Lari-lari bukan sekadar mencari lelah
Lari-lari karena dari sanubari

Dari mana datangnya gelisah?
Dari mencari ke sana kemari

Lari-lari tanpa keluh kesah
Lari-lari merangkai hari

Dari mana datangnya arah?
Dari hikmat pemilik bumi dan matahari

Perayaan Terkadang dan Seringnya


Terkadang angin datang bukan membawa sejuk
Bisa saja gerah dan suhu panas
Terkadang malam tak selalu berbintang
Bisa saja langit kosong melompong

Terkadang sepi tak butuh kawan
Bisa saja itu perayaan kebebasan dari tekanan
Terkadang sedih tak butuh diusap air mata
Bisa saja basah pipi menjadi kelegaan

Seringnya kecewa datang silih berganti
Bisa saja dibarengi luka yang memborok
Seringnya kebahagiaan tidak datang tiap hari
Bisa saja satu musim hanya sekali

Seringnya luka tak butuh dibasuh
Bisa saja dia mengering bersama angin
Seringnya angin tak kunjung datang saat dinanti
Bisa saja dia terbuai aroma lain yang menggoda

Seringnya, terkadang menjadi alasan
Padahal itu sebuah dasar tak beralasan
Terkadang, seringnya menjadi kebiasaan
Padahal tak selalu berarti sama

Remah Roti


Remah-remah roti bekas makan anak para tuan
Didatangi anjing, dijilat dan dinikmati
Lalu pergi, bersisa sedikit
Tak ada yang peduli lagi
Angin sepoi menyapu dan menghilangkan jejaknya

Remah-remah roti tetaplah menjadi remah roti
Didatangi para anjing dan ditinggal setelah habis
Bersisa sedikit dan giliran angin sepoi yang- menghamburkannya
Tak ada yang mengingatnya lagi
Remah roti bersih disapu angin

Sari Berita Penting Ini


Ini wahana kisah masa kini
Saat Anang tak lagi bersama Krisdayanti
Apalagi Aneka Ria Jenaka di TVRI
Hampir lupa Tenda Biru Teh Desi Ratnasari

Ini era video Syahrini liburan di Itali
Bukan lagi Sarah Sechan tiru Madona di MTV
Atau lagu-lagu Dewa 19 ciptaan Ahmad Dhani
Hampir lupa juga kita dengan kuis Jari-Jari

Ini era informasi pokoknya penuh sensasi
Sopan santun hanya menjadi koleksi
Unggah-ungguh, sudahlah itu basi
Sama-sama butuh, baru menjalin relasi

Cinta penuh erotika, itulah gaya masa kini
Butuh belai, ingin harta itulah cinta sejati
Selamatlah yang bisa menikmati
Sari berita penting, entahlah, apakah masih berisi?

Kau Sesatkanku di Sinar Matamu


Purnamakah engkau hingga utuh dan benderang?
Wajahmu senantiasa berpadu syahdu
Bagai iringan paduan suara para Malak
Kerlingmu menyesatkanku di ujung jalan

Jangan kau meledekku yang sedang tersipu
Aku menikmati tarian kecantikanmu yang cemerlang
Aku cemburu saat semua mata menatapmu
Rasanya ingin kau jadi milikku seorang

Pelangi warna-warni menjadi hiasan kepalamu
Cakrawala menjadi kawanmu berjalan
Saat kau tengadahkan wajahmu, mentari menyapamu
Jalanmu adalah sinar benderang tak tertandingi

Kekasih jiwakah engkau hingga kuat menopangku?
Kepercayaan dirimu menaklukkan keraguanku
Tebar bahagiamu sembuhkan lukaku
Jangan kau sesatkan aku dalam gembiramu

Tak adakah jalan lain selain menujumu?
Aku temukan ribuan bintang dalam sinar matamu
Mereka juga menari-nari menghampiriku
Itukah jeratmu membuatku takluk?

Tunjukkan senjatamu beserta kepiawaianmu
Mengapa sedasyat itu kau buatku terjatuh?
Semakin dalam di lubang sukacitamu
Kau tenggelamkanku dalam riang

Jangan pergi meninggalkanku sendiri lagi
Seperti gadis lain yang menendangku setelah manis yang mereka cecap
Aku hanya ingin terus kau sesatkan dalam sinar matamu
Beribu cinta kau buat dalam dunia kita