kabut


kabut datang lagi
hujan bertandang
memang tanpa
banjir besar

dia bukan kawan
sekarung sedih
urung sesal
menjadi bangkai
di ujung jalan

pedang tak dapat
teracung
murka terhenti
tersambar petir

kabut itu
sedih
sedih itu
separuh luka
tetapi, jangan

dalam-dalam
menggali

dalam-dalam menuju
lubang

tak sempat
rintik-rintik
tak perlu
otak-atik
kabut, selamat ya.

Kamu: Bidadari Abis!


Aku dan kamu saling menemukan
Suatu hari di bawah mesin pendingin
Dengan omelan lelaki paruh baya tentang Jokowi
Menyanjung era “Enakan zamanku, toh?”
Aku –jujur, mungkin terpaksa mendengar berbagai
episode keluhannya,
yang tidak pernah lebih asyik daripada
episode-episode Star Wars
atau Batman bertengkar melawan Superman
atau Kapten Amerika mati-matian bertarung
membela Bucky Barnes
melawan Tony Stark

 
Hingga kusadar ada bidadari
–yang sayapnya sedang patah
Lalu kini diperbaiki di service center
dengan lisensi khusus dari kayangan

 

Telingaku terngingang lagu Lingua
Meski era Isyana dan Tulus sedang bergema
Aku lebih terhubung dengan
gaya-gaya musik Bragi, Base Jam atau Humania
Maka nada-nada mereka yang lebih bersarang
Pekat dan sering terputarnya
Saat diam
atau dalam kebosanan

 

Kamu benar ya, bidadari
Tidak. Kamu tidak jatuh dari surga
Mungkin kamu datang bersama
Robot gelinding BB-8
Bidadari tanpa selendang
Sayap tak berbulu
Mungkin kamu naik UFO
Entah –yang jelas aku bukan Joko Tarub
Tak mau kucuri selendang
Boleh kucuri saja hatimu?
Semoga kamu menjadi khilaf
Hingga mau memalingkan muka
dan hidup
bersamaku

(jeda)

 

Diam.
Aku dan kamu masih diam
Bersama belasan lebih mahasiswa
yang seolah setuju
dengan keluhan-keluhan
lelaki paruh baya sedari tadi

Diam.
Masih.

 
3, 2,
SATU!

YES! KAMU MENOLEH!
Aku tahu
Aku dan kamu
Saling menemukan

 

Semoga kamu tidak pernah kecewa
Akan kemasan dan hiasan
Apa yang kubawa dan kuberi
Aku dan kamu
Selamanya berkendara
Melesat
atau mengitari kehidupan
Tak lelah
Mencintai
dan terus menerus setia

 

Dengan satu napas: restu Sang Yang Benar
Dengan tembang-tembang Kinanti
Yang syahdu dan romantis abis!

Percik Kisah yang Berenang-Renang


Mata siapa yang berbinar
Cahayanya menyala dalam titik terang
Aku masuk dengan tenang
Ternyata di dalamnya penuh sinar
Rasa cinta sebagai radar
Percik kisah berenang-renang
Terkadang dia melayang-layang
Tetapi butuh yang sabar-sabar
Dari kedalaman samudera hingga dasar
Kau datang membawa senang
Dalam tari-tarian yang riang
Mohonku kepada Sang Yang Benar
Kita dalam lindungan Cinta Yang Besar

Larutkan


Keabu-abuan di dalamnya tersimpan keraguan
Jangan terbersit apalagi nyala dalam seruan
Itukah sapu bersih yang rentan?

Saat anak merpati mengerang di sarangnya
Induk terbang melesat di angkasa
Pencarian akan eksistensikah atau realita?

Langit yang oranye berpadu padan
Apakah yang serasi dengan kedamaian?
Larutkan sajalah dalam sajak dan nyanyian

Kau Bertarung Demi Tawanan dalam Sarang Api


Kesatria apalah aku
Hamba pun tak layak
Mungkin aku serupa pohon ara terkutuk
Tak berbuah, kering tersedu
Aku bukan perempuan yang mengurapi
Apalagi Zakheus, pengembali uang si miskin
Aku serupa seorang berlegion
Lebih layak dua ribu babi terjun ke jurang
Si bungsulah aku yang hura-hura berpesta
Seumpama gadis-gadis tak berpelita
Hanya kupikirkan keuntungan sendiri

Hingga setiap hari kini
Aku penuh luka dan borok
Air mata dan derita adalah seruku
Lazarus ku tahu telah hidup lagi
Sedang aku hanyalah
Mayat hidup tak berpenghuni roh
Setiap hari penuh umpat
Pantaslah aku dilemparkan
Penuh ratap dan kertak gigi

Hingga fajar itu menyingsing
Kudengar ada suara kebebasan
Aku tawanan dalam sarang api
Hampir habis dagingku
Gosong ditelan lebur nyala maut
Kau menyerukan namaku
Kau memanggilku dan kudengar
Siapalah aku bukan kesatria
Lumpur dan ampas babi bagianku

Kau terang yang menyala penuh
Tak lekang oleh waktu
Pantaslah kau yang disebut:
Sang Empunya
Dengan gagah turun dalam
Kerajaan maut!
Kau bertarung demi aku!
Kau bertarung
Demi aku!
Kau bertarung demi aku!

Kau jemput aku
Keluar dari maut

Siapakah aku dan terpujilah
Engkau!
Masyurlah Nama Sang Empunya
Kau peluk aku dan sebut namaku
Bukan kata orang tetapi kataku

Aku tersanjung bukan kepalang
Lelaki berlubang paku di Tangan-Nya
Memberikanku :
HIDUP.

Sutradara Terhebat


Scene ini sering terlalu berat
Aku mengeluh, merajuk
Sampai mengumpat
Kepada sutradaraku

Honorku terlalu sedikit
Tuntutan naskahnya terlampau banyak
Aku tak sanggup berakting
Terlampau panas di bawah terik
Terlalu dingin berselimut hujan

Sutradaraku pilih kasih
Dia beri yang baik-baik
Kepada aktor lain
Sementara dibiarkan aku lunglai

Terlampau banyak keluh
Aku merasa penuh peluh
Hingga segera ingin kuakhiri
Pengambilan gambar yang berat ini

Hingga kusadari saat aku tersedu
Tersandung bongkahan batu
Sutradaraku menggendongku
Berlarilah dibawanya ku berobat

Dia balut lukaku dengan tanganNya
Dia hapus air mataku
Dia memelukku erat
Agar dapat kulanjutkan scene-ku

Kini aku tahu, Dia sutradara terhebat
Scene-scene yang berat dalam hidupku
Seringnya ia tetap arahkan dengan sabar
KesetiaanNya tak terbatas

Tak buru-buru ia berkata, “Cut!”
Tak pernah dimakinya aku
Meski ku sering tak fasih menguasai naskah
Masih ada kesempatan “Action!”

Kini ku tahu: aku aktor paling beruntung
Bermain lakon dalam scene kehidupanku
Dengan sutradara terhebat
Pemilik semesta, pemelihara hidupku

Tertawalah bersama Paman Matahari


Tertawalah, tertawalah
Tertawalah bersama paman matahari
Mungkin panasnya terlalu terik
Mungkin sinarnya menyengatmu
Tetapi ia dapat mengeringkan air mata
Menyembuhkan luka-luka
Tertawalah, tertawalah
Tertawalah seolah esok
Adalah hari kematianku
Tertawalah, tertawalah
Jangan kau pikirkan tanah pekuburanku
Usah kau resahkan lagi segala luka
Hari ini tertawalah lagi
Siapa tahu kau tak lagi dapat
Melihatku tertawa lagi
Panglima perang pulang
Sambutlah dengan tarian dan tawamu
Kecuali sang panglima pulang
Hanya tinggal nama
Maka getirlah pula, kau basuhlah pula
Ia yang sudah menjadi jenazah
Tertawalah, tertawalah
Damai dan bahagia bersamamu
Saat kau tertawa dan dapat
Kau lihat lagi dunia
Di bawah paman matahari