Hi, buddy 


Hi, buddy.
Mengapa akhir-akhir ini
Kita suka berkelahi?
Kamu ke sana, aku ke mari
Mengapa letih mengitari
Keluh satu-satu menghujani
Bahkan lengking nada semakin meninggi
Hi, buddy
Aku sedih sekali
Kita terlalu genggam emosi
Langit-langit tak cerah lagi
Pelangi sehabis hujan bersembunyi
Ku kira, ketegangan ini
terlampaui:
rasa saling peduli
rasa mau berbagi
Hi, buddy
Mungkin bebanmu makin ke sini
makin tak lagi dapat bersembunyi
Semoga bukan obsesi
dan tetap Kau jaga visi
Hi, buddy
Aku rindu Kita ketawa-ketiwi
Bahagia-bahagiyi
I miss you so badly

Aku Mau Fight with Faith


 

1

Aku Bryan, kelas empat SD Dharma Mulya Christian School Surabaya. Hari ini aku senang sekali. Percayalah, senyumku lebih manis dari biasanya. Ini karena aku dan teman-temanku akan pergi ke luar kota mengikuti Character Camp. Semangaaaat sekali rasanya. Jauh dari bisingnya kota besar dan hiruk pikuk rutinitas. Dalam tiga hari ini di Prigen, aktivitasku pasti akan seru. Hari-hari akan penuh kebersamaan dengan teman, guru, dan kegiatan yang tidak akan pernah membosankan. Aku yakin, sih.

Tas berisi baju dan Alkitab sudah kuletakkan rapi di kamar yang sudah disiapkan panitia. Kalau di rumah biasanya tidur bersama kakak, kali ini aku belajar mandiri bersama teman-teman dan kakak kelas sekolah. Ssst… semoga tidak ada yang mengorok waktu tidur, ya.

“Saya menantang Kalian sebagai anak-anak yang berkualitas dalam sebuah proyek. Siapa sudah siap?” kalimat Mr. Hans sebagai Head Counselor ini sedikit memacu adrenalinku nih, meski masih anak-anak. Apa yang harus aku lakukan, ya? Sebersit tanya ini mampir.

“Setiap kelompok akan saling melawan dalam sebuah permainan seru,” Mr Hans melanjutkan.

Aku serius memperhatikan sambil menebak-nebak proyek yang akan diberikan.

“Namanya BATTLE WORD.”

Dua kata terakhir masih terasa asing, namun sepertinya seru.

DEG. Jantungku berdegup kencang.

“Setiap anak menghafal ayat firman Tuhan sebanyak-banyaknya. Minimal lima belas ayat, dan setiap kelompok akan diadu siapa yang paling banyak.”

2

Saat Mr. Hans menutup kalimatnya, terdengar bisik-bisik dari semua anak di ruangan itu. Di satu sisi aku sendiri merasa lega karena akhirnya mendapatkan informasi yang kuinginkan. Di sisi lain aku pun gugup, membayangkan apakah aku berhasil menyelesaikan poyek itu dan menjadikan timku sebagai juara?

Ah, aku pasti bisa. Secercah semangat dan optimisme menyeruak dari dadaku. Sejak pagi itu, aku belajar firman terus, terus dan semakin giat.

Secara pelahan namun pasti, sebuah nilai kuresapi makin mendalam. Bukan sekadar menghafal ayat ternyata aku mendapatkan banyak harta untuk bekalku sebagai anak, sebagai murid di sekolah, dan sebagai seorang generasi penerus dengan segudang cita. Aku kini memahami betapa Character Camp ini mengingatkan kembali pentingnya membaca Alkitab setiap hari. Ini menjadi sebuah dasar bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan. Dengan kekuatan iman, aku dapat mengalahkan segala tantangan di masa depanku nanti.

43

Dalam sebuah sesi, Bapak Pendeta menantang peserta yang mau berjanji kepada Tuhan untuk menjadi anak-anak Tuhan yang berkualitas, dan siap menghadapi zaman dengan sungguh-sungguh hidup di dalam-Nya. Aku pun mengangkat tangan, menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan. Aku mau komitmen serius, dan tidak ingin menyia-nyiakan masa kanak-kanakku begitu saja. Tangis haruku pecah ketika Bapak Pendeta mendatangi dan mendoakanku. Jangan khawatir Bryan, Tuhan terus menyertai. Sebisik janji yang memantapkan komitmenku. Aku mau berjuang dalam iman dengan penuh semangat. Fight with faith.

5

Cek Toko Sebelah: Sentuhan Sentimental tentang Keluarga


Sejak kecil, saya suka sekali Kisah Anak yang Hilang. Saat melihat teaser pertama film Cek Toko Sebelah ini saya sudah jatuh cinta karena mirip dengan kisah ini. Seorang Bapak dengan dua anak laki-laki: si sulung dan si bungsu. Si Bapak ingin mewarisi hartanya (berupa toko yang dibangunnya dengan usaha keras bersama mendiang istri), kepada si anak bungsu.  Drama kisah 3 laki-laki ini bagi saya menjadi mendalam, karena keterikatan saya dengan Kisah Anak yang Hilang. Meskipun film ini akhirnya tentu berbeda jauh dengan kisah favorit saya tersebut.

Balutan komedi di dalam Cek Toko Sebelah bagi saya terasa menyatu dengan plot utama yang pesannya sangat “nonjok.” Erwin, si anak bungsu yang mendapat “kejutan” yang sebenarnya sebuah tanggung jawab besar berupa toko Papa-nya. Kesempatan ini datang di saat kariernya melejit. Tentu sebuah pilihan sulit, bukan? Sementara si sulung: Yohan, terlihat lebih mengingini toko itu untuk dikelolanya. Lalu mengapakah sang Papa lebih memilih si bungsu? Seperti dalam kisah Anak yang Hilang, si sulung yang merasa lebih perhatian kepada keluarganya marah atas sikap sang Papa yang seolah memilih si adik, ketimbang dirinya. Apalagi dengan alasan ketidakmampuan dari sisi ekonomi. Betapa “kemapananan” menjadi ego utama seorang laki-laki ini, menjadi hal yang menarik. Kisah bergulir dengan plot yang berliku, perlahan namun pasti ternyata berhasil menyentil sisi-sisi sentimental Kita sebagai seorang anak.

Secara personal, Cek Toko Sebelah yang ditulis dan disutradarai Ernest Prakasa ini berhasil mengingatkan hal yang berarti dalam hidup saya: keluarga. Sejak lulus kuliah, saya banyak memikirkan karier, hobi, dan sekolah lagi. Hingga sudah selesai program Magister saya ingin memikirkan untuk sekolah lagi karena betapa saya haus sekali akan ilmu yang sedang saya geluti. Ternyata saya kurang memikirkan lebih detil tentang satu hal: orang tua yang mencintai saya. Tokoh Yohan dan Erwin seperti mampir dekat dan mengetuk hati saya. Saya sering berpikir dari sudut pandang saya sendiri, bagaimana membuat orang tua bahagia. Maka sepotong dialog Koh Afuk (Papa Yohan dan Erwin dalam film ini) membuat ‘JLEB! JLEB! JLEB!’ sekali. Kedua karakter ini (bagi saya) ditulis untuk mengingatkan Kita semua, seberapa dalam Kita mengasihi kedua orang tua dan banyak memikirkan tentang keluarga Kita? Ataukah Kita terlalu sibuk dengan diri Kita sendiri? Cek Toko Sebelah, salah satu film Indonesia terbaik yang mampir di hati saya.