namakanlah


Ketika kebahagiaan itu
tak bernama,
Namakanlah
Ketika kebahagiaan itu
tersesat,
Temukanlah
Ketika kebahagiaan itu
hilang,
Ciptakanlah
Kebahagiaan itu tak bernama
Saat tak ada bahagia

Advertisements

ketik ketak ketuk


ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ku ketuk
tak kau ketik
ku ketik
tak kau ketuk
ku retak-
kan
tak
kau hentak
tak telak
ku bukan petak
ku utuh
tak kau ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ketik ketak ketuk
ku retak-
kan saja
ku hentak-
kan!

hidupku tak mau


aku tak mau
menjadi
tua
keriput
lalu
mati
alih-alih
yang sia

fanapun
tak mengapakah
(tanda tanya)

tahu-tahu
usia

tahu-tahu
tak berusia

mati
dikubur
tak pernah
dapat kutulis-
kan
lagi

kisah-
kisahku

dan kasak-
kusuk

bertanya
lalu tanda seru

tanyakah
retorika kah
(tanda tanya a-
tau
tanda seru
yang
terserakkan)

desis
yang berceri-
ta
apakah ingin
tamat
(tanpa tanda tanya)
merintih
tetapi terta-
wa

kuungkap-
kan
yang (bukan)
resah
bukan tanya

(dentum
yang berna-
da)
sumbang

teriakan pramuniaga
dengan sengau yang sama
dengan
harapan
yang
sama

pertanyaan
hingga hujan berhenti

hingga hujan berhenti

hing-
ga
hu
ja
n
ber
h
ent
i

Aku dan Kamu, Pernah Merasa Takut, Kan?


Pada usia berapapun dan dalam situasi apapun, kita tentu pernah merasa takut. Entah takut yang sepele hingga takut menghadapi masa depan.

Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman bagi dirinya. Apakah kita bisa berani mengatasi ketakutan kita?

Saya mencoba menangkap sebuah rasa takut dari seorang pelajar SMP. Keadaan ini ketika saya renungkan merefleksikan keadaan kita sehari-hari. Kita masih sering saja takut menghadapi ini itu, sekelumit bahkan “segaban” persoalan keseharian. Entah itu hal yang baru, sebuah komitmen atau sebuah tantangan yang datang. Takut bisa diatasi. Takut bisa membuat kita bahkan lebih kuat dari sebelumnya, saat kita mau dengan berani menghadapinya.

Mari belajar menghadapi rasa takut bersama salah seorang siswa ini, dalam film dokumenter pendek saya berikut ini:

kabut


kabut datang lagi
hujan bertandang
memang tanpa
banjir besar

dia bukan kawan
sekarung sedih
urung sesal
menjadi bangkai
di ujung jalan

pedang tak dapat
teracung
murka terhenti
tersambar petir

kabut itu
sedih
sedih itu
separuh luka
tetapi, jangan

dalam-dalam
menggali

dalam-dalam menuju
lubang

tak sempat
rintik-rintik
tak perlu
otak-atik
kabut, selamat ya.

Percik Kisah yang Berenang-Renang


Mata siapa yang berbinar
Cahayanya menyala dalam titik terang
Aku masuk dengan tenang
Ternyata di dalamnya penuh sinar
Rasa cinta sebagai radar
Percik kisah berenang-renang
Terkadang dia melayang-layang
Tetapi butuh yang sabar-sabar
Dari kedalaman samudera hingga dasar
Kau datang membawa senang
Dalam tari-tarian yang riang
Mohonku kepada Sang Yang Benar
Kita dalam lindungan Cinta Yang Besar

Larutkan


Keabu-abuan di dalamnya tersimpan keraguan
Jangan terbersit apalagi nyala dalam seruan
Itukah sapu bersih yang rentan?

Saat anak merpati mengerang di sarangnya
Induk terbang melesat di angkasa
Pencarian akan eksistensikah atau realita?

Langit yang oranye berpadu padan
Apakah yang serasi dengan kedamaian?
Larutkan sajalah dalam sajak dan nyanyian