Mendengarkan Memberikan Ruang Imaji


Saya terkesan dengan salah satu tokoh bernama Chang dalam film karya sutradara Wong Kar Wai “Chun Gwong Cha Sit” (Happy Together, 1997) dan tidak pernah bisa lupa. Tokoh Chang tidak terlalu penting dalam film itu namun satu karakternya yang membuat saya terkesan.

chang 3 in happy together

Dalam satu scene dia bercerita kepada tokoh utama bahwa saat kecil dia mengalami kelemahan dalam penglihatannya. Dia tidak bisa melihat dengan jelas. Sejak itu dia berusaha mengoptimalkan inderanya yang lain yaitu indera pendengaran. Saat kecil dia membiasakan diri untuk mendegarkan lingkungan sekitar. Sampai akhirnya mata Chang berangsur-angsur sembuh dan dia bisa melihat dengan normal kembali. Namun dia tidak menghentikan kebiasaanya untuk mendengarkan. Dia selalu memejamkan mata, berkonsentrasi mendengarkan lingkungan sekitar.

chang in happy together

Saat bercerita demikian, Chang juga membuktikan kemampuannya mendengarkan ini. Pembicaraan apa yang sedang berlangsung di meja seberang mereka. Chang lalu mulai memejamkan mata dan menirukan pembicaraan orang di seberang meja dan mengatakan tak berapa lama mereka akan berkonflik dan memang benar terjadi setelah itu.

chang 2 in happy together

Ternyata malam itu adalah malam terakhir Chang ada di situ, dia punya cita-cita pergi ke suatu tempat. Maka dia ingin merekam suara tokoh utama, sebagai teman kerjanya selama ini untuk dia simpan sebagai kenang-kenangan. Dia tidak suka menyimpan foto namun dia lebih menikmati mendengarkan rekaman suara teman-temannya atau lingkungan sekitarnya.

“Kebiasaan mendengarkan” ini tentu sangat menggugah di jaman serba audio visual. Orang tidak lagi suka berimajinasi hanya dengan suara. Pergi ke suatu tempat yang dilakukan pertama kali adalah memotret tempat itu, berfoto bersama teman dan mengunggahnya di sosial media. Suara hanyalah sebuah ruang imaji yang hanya ditemukan di media radio. Mana ada sekarang orang yang menyimpan suara temannya, yang ada menyimpan foto sebagai kenangan, kan?

Dalam hidup kita khususnya di era serba digital ini menurut saya, kebiasaan mendengarkan butuh untuk dikembangkan kembali bahkan diasah. Di saat semua ingin didengarkan lantas siapa yang mau mendengarkan. Di saat semua ingin “bersuara” lewat media publik atau sosial media, lantas apakah kita masih punya waktu dan menyimpan ruang khusus untuk mendengarkan?

Saya pribadi adalah orang yang sangat menikmati sekali “mendengarkan” meskipun pekerjaan sehari-hari dituntut untuk selalu berbicara. Namun mendengarkan punya kenikmatan tersendiri untuk saya. Saya pernah ‘puasa sosial media’, tidak menulis twitter dalam satu minggu. Karena saya ingin mengendalikan diri dalam “berkicau”. Saya ingin merasakan bagaimana menjadi seorang “pendengar” di twitter, hanya membaca dan memantau apa yang ditulis orang lain tanpa berkomentar sedikitpun. Saya belajar banyak sekali dari proses “mendengarkan” ini.

Mendengarkan memberikan ruang tersendiri dalam hidup kita untuk merenung dan menyadari hal-hal yang hilang di dalam hidup. Mendengarkan memberikan kita kesempatan untuk belajar dan merelakan hati untuk diam sejenak. Mendengarkan memberikan ruang imaji yang tinggi yang membawa kita ke ruang-ruang pengertian yang tidak bisa dimengerti oleh orang yang hanya berbicara saja. Mendengarkan memberikan kita inspirasi untuk hidup lebih baik. 

Berani mendengarkan?

2 thoughts on “Mendengarkan Memberikan Ruang Imaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s