Kemilau Bintang!


Kemilau Bintang!
Aku ingin tanganmu kau rentang.
Beri aku banyak ruang.
Menikmati yang senang senang.
Jangan lagi dia datang.
Kalau tidak, daku jadi arang.

Kemilau Bintang!
Aku ingin kau saja yang terus datang.
Karena sinarmu tak pernah lekang.
Mari dekatkanku pada Sang Yang.
Aku takut getir itu buatku malang.

Kemilau Bintang!
Pertemukanku dengan si Dalang.
Dia yg selalu bawaku menang.
Aku jengah dalam kubang berang-berang.
Hanyut dalam arus yang terus menyerang.

Kemilau Bintang!
Aku lelah menanti pagi datang.
Yang katanya ada sinar dengan deru genderang.
Biarkan kubersembunyi terus dalam petang.
Agar aku tidak terserang.

Advertisements

Setiap Pagi, Saya Lebih Kaya dari Paman Gober


Jumat pagi. 25 Januari 2013. Saya terbangun jam 5 pagi. Kaki saya kedinginan dan parahnya perut saya melilit. Ini seperti yang saya rasakan Kamis siang saat terlambat makan. Ough! Sakit sekali.

Saya menduga ini maag. Sebelumnya saya tidak pernah merasakan seperti ini. Saya langsung membuka HP dan mencari tahu dengan mesin pencari. Apa yang harus saya lakukan saat melilit begini? Saya membaca beberapa artikel sambil bertanya via BBM seorang teman kantor dan sahabat saya Ken Ayu, yang pernah alami. Akhirnya saya mendapatkan solusi. Syukurlah.

“Kesehatan itu mahal harganya” tampaknya bukan hanya sekedar slogan apalagi isapan jempol. Bukan hanya mahal tapi menyiksa sekali jika sakit kita rasakan. Saya sadari beberapa minggu saya sering mengonsumsi sambal dan makanan pedas. Padahal saya sudah berhenti dari hobi saya itu. Pekerjaan yang padat membuat saya lupa menjaga makan dan sembarangan makan sambal. Ini mengusik lambung sehingga akhirnya maag juga menyerang saat terlambat makan.

Pagi tadi saya sudah sehat kembali. Saya sungguh senang 🙂 Kalau paman Gober diceritakan dalam komik, punya gudang uang yang bisa untuk berenang, saya punya kesehatan yang lebih tinggi jauh nilainya dari uang. Saya lebih kaya dari paman Gober 🙂 Harus tetap saya jaga kesehatan ini.

Jas Hujan Robek Sedikit


Sore ini hujan tak kunjung reda. Saya gelisah. Ini karena saya berencana pergi ke Festival Sinema Perancis di IFI, Surabaya. Saya nanti, tapi tak kunjung reda. Akhirnya nekat naik motor pakai jas hujan, berangkatlah saya.

Di tengah perjalanan saya salah jalan. Langsung belok kiri sampai mobil belakang membunyikan klakson. Tentu saya kaget dan berusaha minggir. Tiba-tiba saya menabrak entah apa. Namun Thank God, saya berusaha imbang dan tidak jatuh. Jantung saya sudah deg-degan luar biasa. Kalau saya tiba-tiba jatuh tentu langsung ditabrak mobil belakang. Saya melajukan motor dengan lebih hati-hati.

Tiba di perempatan saaat berhenti di lampu merah, saya baru menyadari bagian samping kiri jas hujan saya robek. Wah, ini bahaya kalau sampai tersangkut, pikir saya. Langsung saya duduki untuk mencegah hal itu. Sepanjang jalan setelah tahu jas hujan saya yang sebenarnya baru itu robek, saya menyesal. Mengapa tidak hati-hati?

Bagi penderita OCD (meski dalam kategori OCD tidak sampai parah), ketelitian dan kehati-hatian penting sekali. Saya menyesal sepanjang jalan.
Hingga sesuatu menyadarkan saya:

Kalau tadi tidak robek sedikit jas hujannya, saya mungkin yang jatuh. Tubuh saya yang robek bahkan nyawa saya yang robek dan tidak bisa kembali lagi.

Saya langsung mengucap syukur. Terima kasih untuk jas hujan yang robek sedikit namun saya tetap selamat sehingga tetap bisa menonton festival sinema Perancis malam ini.

Seringnya saya mengomel untuk hal-hal kecil namun lupa hal besar telah ada pada tangan saya.

Hei, semoga kamu, tidak seperti saya, ya…

Versi Bahagia


Suatu kali di kantor, saya merenung. Apakah saya sudah cukup bahagia selama ini?

Selama 5 tahun saya bekerja di beberapa tempat. Ada yang full time, ada yang paruh waktu. Saat itu saya punya 2 pekerjaan fulll time dan 1 part time ditambah mengerjakan hobi dan impian masa depan. Apakah saya sudah bahagia?

Jawaban saya kepada diri saya sendiri waktu itu: tidak. Saya belum bahagia.

Waktu itu saya mengambil satu pekerjaan full time tambahan dengan alasan sederhana: menambah penghasilan dan menabung untuk membeli rumah. Saya suka pekerjaan itu dan menikmatinya. Hanya saja saat saya merenungkan kembali arti bahagia: saya belum bahagia.

Saya berdoa dan memikirkan apa arti bahagia bagi saya saat ini dan di masa yang akan datang?

Saya temukan jawabannya.

Saya bahagia saat setiap saya bangun pagi saya bisa menulis novel, cerpen, naskah skenario dan memikirkannya sepanjang hari. Sampai sebelum tidur saya masih memeluk tulisan-tulisan saya itu sambil menyiapkannya untuk dibuat versi audio-visualnya. Entah film pendek, panjang, teater, film bioskop, apa saja. Saya bahagia jika suatu saat saya berhasil mendapatkan piala Oscar untuk Indonesia. Itu impian dan tujuan hidup.

Maka saya putuskan untuk fokus menulis. Saya melepas 1 pekerjaan full time sehingga tinggal 1 pekerjaan full time lagi dan 1 part time. Tentu saya kehilangan salah satu sumber penghasilan. Tentu saya kehilangan kesempatan untuk menabung dan membeli rumah. Namun saya bahagia.

Ternyata ukuran kebahagiaan saya bukan punya rumah, bukan punya uang banyak. Hanya punya waktu untuk menulis, saya sudah cukup bahagia.
Sambil mengejar impian saya: menulis skenario film layar lebar terus dan terus sampai mendapat kesempatan untuk mendapatkan Oscar suatu saat nanti.

Versi bahagia saya adalah berkarya. Kalau kamu?
Sudah cukup bahagia, hidupmu?

🙂