“Mikrofon ini Nyawa Saya”


Ini adalah kutipan dari pernyataan karakter Pak Besut, seorang penyiar radio dalam film Soegija. Tidak pernah saya lupa. Selain karena sutradara film ini adalah idola saya (Garin Nugroho), terlebih ini adalah sebuah ungkapan yang sangat dekat dengan kehidupan saya.

Tahun 2007, saya mulai masuk dunia radio. Baru beberapa bulan menjadi penyiar sudah ditawari mengajar ekskul radio untuk siswa-siswa SMA. Ini sebuah dunia baru bagi saya yang baru lulus kuliah waktu itu. Saya memang kuliah di jurusan ilmu komunikasi yang memang belajar media. Namun saya tetap kesulitan karena selama kuliah minat saya pada audio visual, khususnya media komunikasi film dan televisi. Terlebih cita-cita saya menjadi pembuat film.

Ini dimulai ketika pada sebuah acara persekutuan pemuda (acara anak muda di gereja), kami tiba dalam sesi saling mendoakan. Saya berpasangan dengan seorang kawan, bernama Tyo. Kami saling bertanya apa yang ingin didoakan. Saya bercerita banyak hal tentang cita-cita saya di dunia film. Tapi juga saya ungkapkan saya ingin bekerja di Surabaya dulu, apa saja, asal masih di media. Ini untuk mengaplikasikan ilmu komunikasi media massa saya. Tak berapa lama, Tyo memberi info ada sebuah radio yang membuka lowongan penyiar. Oh, tidak! Saya memang suka mendengarkan radio sejak sekolah. Saya memang pernah terbersit ingin jadi penyiar. Tapi, ayolah. Itu tidak serius. Singkat cerita akhirnya saya mencoba melamar lalu juga dengan segala usaha dan penyertaan Sang Khalik saya lolos menjadi penyiar. Ini di luar dugaan saya, jujur saja.

Fiuh…

Ini adalah sebuah pekerjaan layaknya seorang aktor. Smiling Voice! Kamu harus selalu terdengar ramah. Selalu terdengar menyenangkan dan berbagai syarat teknis. 5 tahun ini saya tetap jalani dengan segala prosesnya.

Hei! Saya mencintai pekerjaan ini, ternyata🙂

Maka benar kata pak Besut tadi, “Mikrofon ini nyawa saya…” sama seperti menulis dan membuat film pendek. Siaran adalah nyawa saya.

Apa kelebihan menjadi penyiar radio? Buat saya pribadi, saya tidak pernah merasa sendirian saat bersedih, gembira, punya masalah berat, merasa ditinggalkan dan segudang problem lain. Banyak orang lain mengalami dan mereka berusaha untuk tetap kuat. Pekerjaan ini menguatkan dan memotivasi hidup saya selalu.

Apa kamu bahagia dengan pekerjaanmu sekarang?

4 thoughts on ““Mikrofon ini Nyawa Saya”

  1. buatku,siaran itu CANDU. Sudah entah kemana,dengan posisi sebagai apa,kalau pernah merasakan siaran di radio,pasti akan mengalami kerinduan yang besar untuk bisa siaran lagi. Hati-hati hahaha
    *tertanda: penyiar yang sudah ga pernah siaran lagi tapi kangen banget siaran*

  2. hahaha nanti kalau ada kesempatan siaran di radio sendiri wadooowww hahahah *amiiin…amin…amiiin*
    Sementara ini udah 5 tahunan fokus jadi Music Director aja kakaaak….udah sangat menyita waktu,apalagi sekarang aku MD radio jaringan,ngurusin lagu di beberapa radio jaringan milik bos ku hihhi…lumayan rempong hahahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s