“Natalan di Rumah Patjal” Dapatkan di @nulisbuku


natalan di rumah patjal cover depan RGB

Apa yang terpikir saat membaca judul #NatalanDiRumahPatjal? Patjal pelesetan dari “Pacar.” Semua kisah tentang CINTA dan menemukan hati.

http://bit.ly/1a2VS4H #NatalanDiRumahPatjal akan membawa kita pada tokoh-tokoh yang membuat tersenyum, terhanyut bahkan tersentak.

Hati-hati saat membaca #NatalanDiRumahPatjal jika kau membawa hatimu serta. Bisa jadi ada kisah yang membawa pergi hatimu jauh.

Kisah-kisah yang dekat di sekitar kita tapi tidak pernah terpikir. Mereka ingin menyuarakan sesuatu yang selama ini terbungkam.

12 kisah dlm buku #NatalanDiRumahPatjal juga akan membawa kita berjalan-jalan memasuki kamar-kamar rahasia dalam hati yang selama ini terkunci.

Karena formula cinta bukan hanya kegembiraan tapi juga metamorfosis kepahitan dan kegagalan yg menjadi manis dan bersayap indah.

Bahagia itu proses. Bukan hanya perasaan cinta tiap saat tapi menerima rasa luka yang perih menjadi bagian belajar untuk bahagia.

Semua luka itu baik jika sama-sama berjuang menyembuhkannya. Bukan membiarkan luka itu jadi borok sampai bernanah.

Bukan hanya sebuah perayaan akan cinta tapi perjalanan tentang menemukan hati yang bahagia meski butuh waktu yg lama.

Ada kisah-kisah yg membuat kita 🙂 :’) 😀 bahkan menari. Ini tidak selalu tentang diri sendiri tapi tentang mengerti sebuah hati.

#NatalanDiRumahPatjal semoga menjadi harapan tentang sebuah ratapan yg menjadi tarian, doa yang kita mengerti benar bahkan air mata yang telah selesai.

Dapatkan kisah-kisah cinta seputar Natal dalam #NatalanDiRumahPatjal hanya di @nulisbuku dan mari kita belajar mengeja cinta bersama dengan enak.

Pesan melalu e-mail : admin@nulisbuku.com. Sertakan nama, alamat lengkap dan nomor telepon. 

http://nulisbuku.com/books/view_book/5225/natalan-di-rumah-patjal

 

Advertisements

Tuhan, Saya dan Cinta (Di Balik Buku Natalan di Rumah Patjal)


natalan di rumah patjal cover

#NatalanDiRumahPatjal?

Patjal pelesetan dr “Pacar” biasa disebut pula dengan kekasih. Orang yang kita kasihi sepenuh hati dan bersama menyiapkan hubungan menuju jenjang pernikahan.  #NatalanDiRumahPatjal adalah buku kumpulan cerita pendek terbaru yang saya terbitkan secara mandiri bersama Nulisbuku.com. Semua kisah dalam buku ini tentang CINTA dan menemukan hati.

Saya menulis keduabelas cerita di dalam buku ini di sela aktifitas saya. Banyak pemikiran dan perenungan selama dua bulan terakhir. Seperti biasa setiap perenungan itu selalu membawa saya untuk menuliskan sesuatu. Tidak semua kisah dalam buku ini adalah fiksi. Ada hal-hal tertentu yang mendorong saya untuk menulis karena saya merasa ingin mengatakan sesuatu. Maka jadilah buku ini. Nulisbuku.com selalu memfasilitasi saya untuk menerbitkan buku-buku dengan memberi saya kebebasan.

Ada banyak kejadian, tokoh atau peristiwa monumental yang membuat saya menuliskan cerita pendek yang akhirnya saya masukkan di dalam buku ini. Salah satunya seorang tokoh sejarah yang sangat saya kagumi bernama Zafnath Paaneah. Kisah-kisahnya selalu saya ingat saat saya mengalami kesulitan di dalam hidup. Maka itu mempengaruhi saya dalam menulis “Lelaki Tanpa Libido” sebagai kekaguman saya akan tokoh yang juga dikenal dengan nama Yusuf / Yoseph ini. Ada pula cerita-cerita yang saya tulis setelah saya berdiskusi atau sekedar mengobrol dengan kawan. Selalu saja ada pemikiran yang ingin saya sampaikan di balik cerita-cerita cinta di dalam buku ini. Tidak jarang pula, pengalaman personal saya saat mencari kehendak Tuhan yang terbaik di dalam hidup selama ini menjadi pemicu saya menuliskan cerita.

Buku ini juga saya persembahkan untuk orang-orang yang saya kasihi. Kedua sahabat saya bersama pasangan hidup mereka masing-masing dan untuk kakek-nenek saya di surga. Saya sadari atau tidak mereka semua telah memberikan pengaruh besar kepada saya. Banyak pemikiran dan pemahaman baru saya dapatkan, demikian juga segala macam pelajaran hidup tentang cinta. Dari sahabat saya : Stefy dan Nia saya belajar bagaimana kesetiaan itu terus dijaga tanpa terbatas jarak. Dari Nita dan Anton saya belajar tetap bertahan meski di saat-saat sulit. Dari kakek-nenek, saya belajar tentang cinta sejati sampai mati, tak terbatas usia. Tentu dari berbagai macam karakter yang saya temui sehari-hari pula yang membentuk karakter saya semakin kuat dan penuh pemahaman baru tentang hidup.

Di atas semua ini tentu Sang Pemilik Hiduplah yang telah menjadi penulis sejati kehidupan saya. Dia itu dekat dan selalu memberi saya kesempatan untuk belajar apa saja yang penting di dalam hidup. Sang Pemilik Hiduplah yang menemani waktu-waktu saat saya meratap dan menangis. Sang Pemilik Hiduplah yang setia memeluk saya setiap saya dingin dan pahit di dalam hidup. Sang Pemilik Hiduplah yang kemudian mengubah ratapan saya menjadi tarian. Dia yang berkata, “Talita Kum!” untuk membangkitkan saya kembali dari kematian rasa akan cinta. Sejumlah kata putus asa dan pesimis Dia hapus satu persatu dan menuntun saya perlahan melalui sebuah proses hidup bahagia. Akhirnya saya belajar bahwa kata bahagia bukan selalu gembira setiap saat namun sebuah proses sedih, pahit bahkan air mata yang kita tabur setiap hari hingga kita mengerti benar arti bahagia. Semua proses itu yang terpenting terus memegang kuat Tangan Sang Pemilik Hidup agar kita dapat memikul kuk (beban) dengan enak.

Cerita-cerita di dalam buku ini sebenarnya juga sejumlah ide untuk film pendek saya. Jika menunggu untuk membuatnya menjadi film pendek tentu membutuhkan proses, biaya dan waktu yang tidak singkat. Maka sembari saya menerbitkannya dan semua royalti buku ini tentu akan saya gunakan untuk berkarya (membuat film pendek) lagi, maka saya ingin bagikan terlebih dahulu semua pemikiran saya di sini.

#NatalanDiRumahPatjal semoga juga akan membawa hatimu belajar mengenai cinta. Mungkin sesekali kita tertawa, tak jarang menangis bahkan diam merenung, yang jelas saat kita sungguh berpegang pada Tangan-Nya kita akan mengerti betul tentang arti sebuah “proses” di dalam hidup. Maka saat kita menuai hasil kita tetap menjadi orang yang rendah hati. Buku ini adalah proses perenungan akan Tuhan, diri sendiri dan cinta. Semoga kamu suka 😉

 

 

 

 

Selamat Pagi, Malam Natal (Cerita Pendek)


SPML

 

 

Hujan sejak semalam memang semata bukan sesuatu yang konvensional. Tidak ada kesepakatan bersama namun memang inilah peristiwa aktual. Selalu turun hujan setiap akhir tahun yang entah rintik, entah deras maksimal. Ada yang senang, tak jarang ada yang sedikit kesal. Salah satunya Timbul si tukang sandal. Dia selalu giat meski bekerja secara personal. Menjual sandal dari kampung ke kampung dengan cara yang halal.

Timbul memandang langit seperti ada sesuatu yang opsional. Dia mencoba sabar meskipun sedikit kesal. Berdamai dengan hujan meski ini akan mempengaruhi finansial. Dia terus mencari cara agar mulutnya tidak mengutuk, “Sial, sial, sial!” Dia sendiri tahu bahwa ini yang membuat hatinya sebal. Namun apalah arti sebal jika tidak menemukan solusi yang esensial?

Di pinggir pasar, duduklah si tukang sandal. Semoga tak ada yang mengira dia adalah seorang berandal. Di depan tukang daging, pandangannya horizontal. Mereka tentu bukan kalangan intelektual. Meskipun mereka juga selalu bekerja dengan akal. Bagaimana menjajakan dagangan masing-masing dengan cara yang halal. Kedua pedagang kecil itu tanpa sengaja saling menatap sentimental. Seolah tukang daging menatap rasa sebal. Itu bagai tersirat dari sorot mata si tukang sandal.

Tukang daging mencoba tersenyum, “Sabar, mas. Pagi yang hujan seringkali bikin sebal.”

Dia lalu menghampiri si tukang daging melewati batas teritorial. Seolah kini mereka telah berada dalam satu wilayah internal. Si tukang sandal mengeluarkan barang dagangannya dengan natural. Satu pembeli cukup menambah finansial. Si tukang daging masih tersenyum sambil mengeluarkan uang untuk membayar sandal. Kini mereka siap berbicara monolingual. Bahasa saling mengerti satu sama lain, bagi mereka itulah yang paling esensial.

Kini si tukang sandal lumayan bisa tersenyum tanpa sebal. Dia mengangguk mencoba berterima kasih dengan rasional. Si tukang daging melanjutkan memotong daging-daging sapi itu dengan profesional. Ada ketertarikan tersendiri dari si tukang sandal. Senyum si tukang daging itu terlihat tulus, tidak abal-abal. Belum dia lihat satupun pembeli yang datang namun itu tidak membuatnya sebal.

Si tukang daging tersenyum kembali dengan natural. Kini dia mulai bercerita bahwa dahulu dia seorang pemarah yang hampir setiap hari merasa sebal. Hingga sebuah persitiwa menjadi cikal bakal. Itu menyadarkannya dan membuatnya berubah maksimal. Kala itu dia sedang marah dan menyebut diri orang paling sial. Dalam beberapa hari keuntungannya tak dapat mencukupi finansial. Hampir-hampir ia merugi dan menjadi orang paling cynical. Sampai dia melihat gadis kecil berambut ikal. Dia sedang menikmati separuh nasi untuk dimakan berdua dengan adiknya yang juga berambut ikal. Hatinya remuk melihat tawa gembira keduanya yang sungguh bukan artifisial. Padahal mereka miskin bagai rakyat jelata di jaman kolonial. Namun mereka menghargai yang sedikit itu sebagai peristiwa monumental. Sejak itu si tukang daging tidak lagi merasa sebal. Dia mencoba berterimakasih kepada Sang Agung yang memberi rejeki dengan aktual. PemberianNya di masa lalu, kini dan nanti sungguh continual.

Kini tersentak jugalah si tukang sandal. Bahwa dia sering terus merasa sebal. Pemberian Sang Agung kepadanya selalu nyata, bukan artifisial. Hujan pagi ini bukan penghalang pemberianNya yang sungguh continual. Si tukang sandal kemudian terhenyak mengingat bahwa malam nanti adalah malam natal. Sudahkah dia memberikan kepada-Nya sesuatu yang proporsional? Selamat pagi, malam Natal. Si tukang sandal kini menyadari sesuatu yang andal.

ilustrasi blog selamat pagi malam natal