SYUKUR UNTUK : Malam Terjaga, Secangkir Teh dari Sahabat


57639165

[Suatu waktu, aku lupa kapan tepatnya]

Kondisi tubuh yang lunglai, perut yang kembung dan mual menyeruak. Seisi tubuh bagai terkoyak dan membuatku terjaga. Malam itu aku menginap di rumah seorang sahabat. Aku terbangun dan sedikit berlari menghampiri toilet. Aku terhampar di sisinya dan mencoba mengeluarkan semua yang membuatku mual sedari tadi. Karena perutku kosong dan tak secuil makanan pun ada di dalamnya, aku hanya mengeluarkan air dan makin sakit pula. gara-gara krupuk bekicot dan tak ada makanan lain, aku seakan sekarat, dan melemas.

Beberapa kali aku keluar masuk kamar, ingin mengeluarkan semuanya, namun hanya air dan angin yang malah membuatku makin lemas tak berdaya. Aku bahkan sampai tertidur di depan tiolet selama beberapa puluh menit, baru tersadar dan masuk dalam kamar sahabatku lagi.

Rupa-rupanya, ketidakberdayaanku mengusik sahabatku dan dia terbangun. Dia tahu akan kelemahan tubuh yang aku rasakan. Aku hanya diam lantaran habis daya dan tenagaku. Dia memandangiku sejenak lalu keluar kamar. Tak berapa lama, sahabatku datang membawa secangkir teh hangat untukku.

Hal ini tidak akan pernah kulupa. Sang KHALIK begitu perhatiannya kepadaku. Dia memberikan perhatian itu sampai ke hal yang terkecil: “Secangkir Teh hangat” untuk menenangkanku. Hal yang tidak pernah kusangka pula, perhatian itu melalui seornag sahabat, yang kukira dia tertidur lelap dan tak menyadari kesakitanku. Meskipun pula dia terlihat seperti seorang yang cuek, tapi hari itu, sebuah perhatian hasil kolaborasi SANG KHALIK yang memakai pula sang sahabat, yang sangat perhatian kepadaku. Sebuah nilai Kasih yang sungguh AKU SYUKURI dan TIDAK PERNAH AKU LUPA semur hidupku. Meskipun hal kecil, namun itu SANGAT BERARTI.

Ini menginspirasiku pula, “SEKECIL APAPUN PERHATIAN yang bisa aku berikan kepada orang lain, ITU SANGAT BERARTI”.

Advertisements

Setangkup Rindu untuk BERSYUKUR


Berangkat dari statement seorang teman. Intinya: dia tidak pernah mendapatkan apa-apa dari pekerjaan yang dilakoni selama ini. Melihat reaksi itu spontan saya mengingatkannya, jangan sampai Tuhan marah. Masak kamu tidak mendapatkan apa-apa dari pekerjaanmu? Dia hanya menjawab, “Cuman uang..”
Tentu saya protes karena saya melihat bahwa BANYAK HAL telah dia dapatkan dari pekerjaan itu. Dia yang tidak bisa melihat sisi yang harusnya dia bisa SELALU BERSYUKUR. Setiap bertemu, dia hanya mengeluh. Dulu mualanya saya menghiburnya, tapi kelamaan saya mendiamkannya saja, karena saya pikir, seharusnya dia bisa berpikir sendiri.

Aku kembali melihat dan bercermin pada kehidupanku sendiri. Apakah aku seperti teman ini? Aku memang pernah mengeluh pada Tuhan, mengapa kehidupan dan cita-cita-ku terasa lambat berjalan. Bersyukur, DIA slalu ingatkanku, dan aku kembali taat berjalan di jalan-NYA. Kejadian ini pula mengingatkan, bahwa aku seharusnya TIDAK PERNAH BERHENTI BERSYUKUR. Tidak segera sampai ke tujuan dengan cepat, bukan berarti TIDAK BISA. Tuhan ingin melihatku taat dan setia. Berangkat dari statement itu, aku akan mencoba menuliskan setiap syukurku, melalui berbagai kejadian yang lampau maupun masa kini yang membuatku tetap bersyukur sepanjang waktu.

71042238

BERJALAN LAMBAT, APA SELALU LAMBAT BERJALAN?


Melihat seorang kakek berjalan di pinggir jalan, menarik perhatianku beberapa waktu lalu. Kakek ini terlalu lambat menurutku. Bukan karena aku yang sedang mengendarai sepepda motor namun meskipun aku ikut berjalan kaki, itu masih terlalu lambat. Kalau jalan seperti itu kapan sampainya? Tentu aku meninggalkan dia dengan laju motorku. Sembari berpikir dalam benak, sepertinya keadaanku juga sama lambatnya dengan dia.
Aku lalu sempat sebal. Hei?! Berapa umurku? Ini adalah usia produktifku untuk meraih impianku? Namun apa YANG SUDAH aku lakukan? Aku juga BERJALAN SAMA LAMBATNYA DENGAN KAKEK ITU. Kalau begini terus, kapan sampainya? Hei, aku tidak sedang berjalan ke sana?
Aku memang sedang berjalan lambat. Aku tidak sedang mengerjakan apa-apa untuk meraih impianku. Lalu kemudian? Apakah aku salah mengambil keputusan? Aku harus segera pergi dari sini dan mengambil langkah dan jalan lain agar aku bisa LEBIH CEPAT?
Hmmm…..
Aku selalu berkali-kali ingin segera mendapat shortcut untuk jalan lebih cepat. Aku lupa bahwa SEBUAH PROSES menentukan MASA DEPANKU. Kualitas akan terasah dari sebuah proses. Proses apa saja. Suka, duka, baik, buruk, usaha, termasuk sebuah jalan yang SEPERTINYA tidak membuatku CEPAT SAMPAI TUJUAN. Terkadang aku merasa PROSES INI TERLALU LAMA. SANGAT LAMA. AKU BERJALAN LAMBAT SEKALI. Namun kalau aku sadar bahwa dari PROSES itu akan ada banyak hal yang aku dapat, termasuk sebuah KUALITAS. Bagiku, YANG TERPENTING sekaranga dalah : AKUBISA MENYELESAIKAN proses ini DENGAN MELAKUKAN YANG TERBAIK, ditambah lagi SELALU PERCAYA KEPADA SANG PENCIPTA (bukan hanya berharap danmenunggu, tapi PERCAYA : yang TERBAIK kita akan dapatkan).

Berjalan lambat TIDAK SELALU membuat hidup kita LAMBAT BERJALAN. PROSES LEBIH PENTING DARIPADA HASIL

BERMAIN DENGAN MASA LALU, BUKAN BERMAIN API


“Setiap orang pasti punya masa lalu, setiap orang pasti punya luka dan kesedihan” Ini adalah quote yang aku ambil dari sebuah tagline film buatan seorang sutradara Surabaya; DON ARYADIEN. Setiap orang juga pasti punya kenangan tentang masa lalunya, bahkan penyesalan. Menurutku, itu wajar-wajar saja. Apalagi jika ingin memperbaikinya. Aku pun ingin memperbaiki sebuah kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu.
Sudah lebih dari 7 tahun aku sangat ingin melakukannya. Selama ini aku hanya berharap akan datang waktunya, karena buatku ini sangat URGENT buat jiwaku dan sangat perlu aku lakukan. Mungkin orang-orang terdekatku menganggap itu tidak penting, bodoh dan tidak perlu aku lakukan. Tetapi buatku, aku harus melakukannya. Meski “Yang Terlewatkan” (persis seperti lirik lagu Sheila On 7 ini) sudah benar-benar LEWAT tapi setidaknya aku bisa SEDIKIT MEMPERBAIKI SEBUAH KESALAHAN DI MASA LALU. Namun kali ini, aku benar-benar telah bulat memutuskan, meski diam-diam dan tanpa ada yang tahu jelas apa itu. Setidaknya ada keyakinan yang membuatku MAU UNTUK MELANGKAH. Maaf kali ini, aku ingin menyimpannya sendiri, bahagia sendiri dan menikmatinya sendiri. Aku hanya KEMBALI (bukan bermain) dengan masa lalu UNTUK MEMPERBAIKINYA, bukan BERMAIN dengan API.

Selamat Datang Visi Hidupku tahun ini: “2009 Meraih Impian”


446_1024Berbicara tahun 2008, sepanjang tahun itu aku mendapatkan banyak hal membahagiakan sekaligus mengejutkan dari Sang PENCIPTA. Mulai dari mengelola sebuah media komunitas (yg tidak pernah kubayangkan, apalagi kuinginkan -tapi Tuhan mau aku lakukan itu); Memenangkan Festival lumayan Bergengsi (bersama pilem Q-ta -my team); Bertemu tokoh idola: SUNGGUH NYATA! (berbincang, berfoto, sayangnya PRESENTASI…dan aku tampak bodoh sekali di depannya… hiks..hiks);  Kehilangan kedekatanku dg my bro-sist (menyakitkan, menyedihkan, tapi inilah hidup… Bersyukur, Tuhan pulihkan aku kembali dan aku tetap bisa mengasihi mereka dan pasangan mereka); Terpaksa melakukan hal-hal yang TIDAK AKU SUKA – tapi sekali lagi inilah hidup (mungkin aku sudah mulai terbiasa), Berhenti dari partime-ku di sebuah media besar di kotaku (karena pencekalan- mengerikan, menyedihkan, tapi ini realita);  Kembali lagi part time -dan berhenti lagi; Merasakan hal-hal baru dalam spiritualitas; Rumah Baru; Murid-murid baru; Belajar menjadi Sanguin-Flegmatis-Koleris dalam hal-hal postif yg harus Bisa aku lakukan pada saat2 tertentu; LIBURAN Akhir Tahun (bertemu orang baru – tentu belajar hal baru) — “BERSYUKUR UNTUK TAHUN 2008” 

 

Inilah tema Hidupku tahun ini : “2009 Meraih Impian”

Aku sungguh PERCAYA kepada Sang PENCIPTA : Tahun ini akan ada banyak impianku yg akan tercapai. BUKAN AKU – BUKAN USAHAKU, tapi TUHAN, TUHAN yg MELAKUKAN SEMUA atas hidupku. Meski di depan mataku: belum ada tanda-tanda yg bisa menunjukkan aku akan bisa meraih impianku, tapi INILAH KEPERCAYAANKU SEPENUHNYA kepada TUHAN. Aku tahu DIA sudah berjanji, dan aku tidak lagi hanya menunggu-nunggu / menanti-nantikannya sambil harap-harap cemas, tapi AKU PERCAYA. Apa bedanya? Kalau hanya berharap/ menunggu/ menantikan saja : suatu saat aku bisa bosan dan tidak lagi percaya pada janji Sang PENCIPTA. Namun aku PERCAYA: tidak lagi menanti/ berharap/ menunggu. Tapi segala sesuatu yg terbaik bagiku SUDAH DISIAPKAN. Bukan keinginanku, tapi KEHENDAKNYA yang TERBAIK buat aku.