Setangkup Rindu untuk BERSYUKUR


Berangkat dari statement seorang teman. Intinya: dia tidak pernah mendapatkan apa-apa dari pekerjaan yang dilakoni selama ini. Melihat reaksi itu spontan saya mengingatkannya, jangan sampai Tuhan marah. Masak kamu tidak mendapatkan apa-apa dari pekerjaanmu? Dia hanya menjawab, “Cuman uang..”
Tentu saya protes karena saya melihat bahwa BANYAK HAL telah dia dapatkan dari pekerjaan itu. Dia yang tidak bisa melihat sisi yang harusnya dia bisa SELALU BERSYUKUR. Setiap bertemu, dia hanya mengeluh. Dulu mualanya saya menghiburnya, tapi kelamaan saya mendiamkannya saja, karena saya pikir, seharusnya dia bisa berpikir sendiri.

Aku kembali melihat dan bercermin pada kehidupanku sendiri. Apakah aku seperti teman ini? Aku memang pernah mengeluh pada Tuhan, mengapa kehidupan dan cita-cita-ku terasa lambat berjalan. Bersyukur, DIA slalu ingatkanku, dan aku kembali taat berjalan di jalan-NYA. Kejadian ini pula mengingatkan, bahwa aku seharusnya TIDAK PERNAH BERHENTI BERSYUKUR. Tidak segera sampai ke tujuan dengan cepat, bukan berarti TIDAK BISA. Tuhan ingin melihatku taat dan setia. Berangkat dari statement itu, aku akan mencoba menuliskan setiap syukurku, melalui berbagai kejadian yang lampau maupun masa kini yang membuatku tetap bersyukur sepanjang waktu.

71042238

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s