Christian Pramudia

“Antagonis” Lima : Rumaldo (2)


Seketika aku bangkit dari ranjang karena suara pintu kamarku yang dibuka. Perenungan dan keluhan-keluhan di layang pikirku terhenti. Rumaldo datang dan dia masuk begitu saja. Aku memandangnya dengan penuh pertanyaan. Laki-laki ini sebenarnya… Continue reading

“Antagonis” Lima : Rumaldo (1)


Aku dan Lauta bersamaan memandang Rumaldo. Sambil berusaha mengingat bahwa betul sudah aku kunci tadi pintu kamarku. Aku benar-benar takut jika Rumaldo akan marah. Kasihan Lauta jika diaterkena marah. Aku benar-benar menantikan adegan… Continue reading

“Antagonis” Empat : Si Badut Kecil (2)


“Seringnya apa yang kita andalkan di dunia itu enggak bisa lagi kita andalkan di waktu tertentu. Banyak hal yang tidak terduga bisa saja datang dan membuat kita kecewa.” Lauta mencoba bijak dan kali… Continue reading

“Antagonis” Empat : Si Badut Kecil (1)


“Badut kecil, kau kaya sekali! Kemana uangmu sekarang?” aku sudah bisa menebak pertanyaan Lauta ini akan terlontar setelah aku bercerita. “Itulah kebodohanku selama tujuh tahun aku di pulau itu, ludes seketika dalam satu… Continue reading

“Antagonis” Tiga : Pelangiku Warna-Warni (Dulu) (2)


Aku berpikir sejenak, meyakinkan diri apakah Lauta bisa dipercaya untuk hal ini. Namun kupikir buat apa lagi aku menyimpan semua cerita bodoh tentang kebodohanku di masa lalu. Maka mulailah aku membuka diriku satu… Continue reading

“Antagonis” Tiga : Pelangiku Warna-Warni (Dulu) (1)


Suara itu mengagetkanku tadi. Tentu bayangan kesedihanku tentang Swani yang sudah tidak ada lagi menjadi terhenti. Di satu sisi itu menganggu karena menghentikan lamunanku bersama Swani tapi di sisi lain itu baik. Ingatanku… Continue reading

“Antagonis” Dua : Swani (3)


Tahun keempat, tahun kelima sampai tahun ketujuh. Perselisihan kecil sering terjadi. Hanya saja bukan sesuatu yang berarti. Siapa bilang uang bukan segalanya? Aku bukan laki-laki miskin yang tak bisa membuatnya bahagia. Apapun bisa… Continue reading

“Antagonis” Dua : Swani (2)


Pernah ada seorang lelaki yang menggoda Swani. Dia seorang saudagar yang sedang singgah di pulau itu. Memang dia punya banyak uang dan mungkin juga kekuasaan di tempat asalnya. Mulanya dia tidak tahu Swani… Continue reading

“Antagonis” Dua : Swani (1)


Pagi di Pulau Eros selalu sunyi dan tanpa pesta. Saat-saat inilah aku banyak merenung akan hidup. Menyesali dan terus menyesali semua kisah laluku yang mungkin hitamnya sudah menjadi abu. Tidak pernah ada penyesalan… Continue reading

“Antagonis” Satu : Ksatria Kehilangan Busur (2)


Ternyata detik aku berputar itu adalah detik awal penderitaanku. Semua di luar ekspektasi bahkan jauh sekali tidak terpikir. Aku kacau dan tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Bermil-mil jauhnya aku pergi dari Pulau… Continue reading