Pada Suatu Paskah Kau Menggenggam Tanganku


Pada suatu Paskah kau menggenggam tanganku
Saat itu kita lari terburu-buru
Setelah salam Pendeta yang syahdu
Masih terngiang kidung-kidung merdu

Hanya kita berdua berbincang seru
Ah maksudku, ceritamu yang seru
Aku sabar mendengarkanmu
Memandangi binar mata dan senyum simpulmu

Kau tak henti bercerita tentang ibumu
Yang sedih sampai yang lucu
Sementara aku hanya diam sendu
Sambil membayangkan bagaimana wajah ibuku

Pada suatu Paskah kau menggenggam tanganku
Sambil kau ceritakan tentang nada-nada rindu
Semua masih tentang ibumu
Yang pergi pada suatu pagi di hari Minggu

Sebenarnya tak pernah ku pahami itu
Karena ibuku tiada saat melahirkanku
Tak pernah kulihat ibuku
Hingga kini menjadi misteri pemahamanku

Melihatmu asyik mencumbu rindu
Aku tak pernah ingin terburu-buru
Selalu kunantikan ceritamu
Seolah tak pernah habis waktumu

Pada suatu Paskah kau menggenggam tanganku
Setelah kita lari terburu-buru
Sabar kunanti waktu untuk melamarmu
Di tengah kau asyik dengan dirimu dan melupakan aku sedang bersamamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s