Filosofi Kopi: Tiwus Perfecto! Intim Sekali Kehadirannya


Film adaptasi selalu punya problemnya sendiri bagi pembaca setia bukunya. Ini wajar, karena setiap pembaca punya imajinasinya masing-masing yang bisa jadi jauh berbeda dengan pembuat film. Kalau kata Richard Krevolin (dalam bukunya How Adapt Anything Into A Screenplay), pembuat film tidak berhutang apapun pada teks asli. Ini berarti mereka dapat sebebas-bebasnya menerjemahkan isi teks (cerpen, novel, biografi dan sebagainya) menjadi sebuah film. Namun pembaca setia seolah menjadi raja yang sering ‘menghakimi’ karya yang begitu mereka cintai itu. Apakah menjadi sangat berkesan ataukah malah buruk bagi mereka. Tidak bisa dipungkiri, paling tidak, penonton pertama film adaptasi adalah pembaca setia bukunya yang tentu penasaran apakah imajinasi mereka akhirnya mendekati dengan visualisasi filmnya.

Bagi saya yang merupakan pembaca beberapa karya Dee, tentu sering menantikan film-film adaptasinya beberapa tahun terakhir. Namun Filosofi Kopi adalah yang terbaik, yang berhasil menyapa dengan sangat intim. Pada dasarnya Filosofi Kopi adalah jenis adaptasi yang setia pada cerita pendeknya, namun beberapa bagian terasa menjadi adaptasi bebas yang tetap menyatu dengan kisah cerpennya. Mungkin boleh saya beri julukan sebagai adaptasi yang kreatif, sebagai perpaduan keduanya.

Filosofi Kopi memberi pengalaman menonton yang sangat intim bagi saya secara personal, karena kedekatannya dengan pengalaman pribadi dalam beberapa hal. Pertama, Papa saya bekerja di pabrik kopi sejak muda hingga kini saya dewasa. Berikutnya, saya pun memiliki kawan sejak kecil sama seperti Ben dan Jody (karakter dalam Filosofi Kopi) yang juga sedang bekerja sama dalam sebuah pekerjaan hingga kini. Ditambah pula, persis di lokasi yang sama di film, kami juga pernah berkonflik tentang sebuah masalah. Maka Filosofi Kopi sangat mengingatkan saya dengan banyak pelajaran hidup yang pernah saya dapatkan. Salah satunya, bahwa hidup harus tetap kita hadapi dengan berani meski rasanya pahit, ternyata nikmat juga jika kita tepat meraciknya. Sama seperti racikan sutradara Angga Sasongko, yang terasa tepat sekali racikannya hingga kita benar-benar merasakan nikmat kepahitannya. Alur cerita yang mengalir dengan enak, didukung para pemain, penataan art, sinematografi hingga semua elemen dalam film menjadi satu kesatuan yang berhasil menyentuh saya dengan sangat dekat.

Filosofi Kopi menjadi penting karena selepas menonton saya jadi ingin memeluk Papa erat sekali untuk berterima kasih. Serta bersyukur punya sahabat yang telah menginvestasikan hidupnya sejak usia 7 tahun untuk saling berbagi tentang hidup bersama saya hingga kini. Ini menjadi sebuah karya adaptasi yang perfecto. Beberapa pilihan sutradara yang menerjemahkan beberapa bagian dalam cerpennya tidak menghilangkan esensi dan emosinya. Sebagai pembaca, saya tetap merasa dekat dan sebagai penonton, saya merasakan pergerakan yang kreatif dari visualisasi cerpennya. Pun kopi Tiwus yang menjadi nyawa dari cerita menjadi benar-benar hidup. Maka adaptasi Filosofi Kopi ini saya sebut Tiwus Perfecto! Intim sekali kehadirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s