Pegawai Toko Buku


Beberapa waktu lalu saya ke toko buku mencari sebuah tulisan penulis favorit saya. Ketika mencari di komputer, saya dibantu oleh seorang pegawai. Ternyata ada beberapa judul. Pegawai itu tidak berhenti di situ, dia mencarikan beberapa buku itu yang tersebar di rak-rak yang berbeda. Tidak butuh waktu lama dia langsung menemukannya.

Ini mengingatkan saya akan kejadian sekitar 8 tahun lalu. Di sebuah toko berbeda saya juga sedang mencari sebuah buku. Buku itu penting sekali untuk penelitian saya saat itu. Sang pegawai dengan sigap mencarikan buku yang saya cari. Namun dia tidak bisa menemukan dalam waktu yang cepat. Butuh waktu beberapa lama. Sampai satu titik saya menyerah dan mengatakan kepadanya tidak usah dicari lagi, lain kali saja mungkin saya datang ke sini. Di luar dugaan ternyata pegawai itu tidak menyerah. Dia meminta saya menunggu sebentar dan berniat mencarikannya. Akhirnya buku itu dia temukan. Saya masih ingat betul raut wajahnya yang terlihat senang. Dia saja yang mencari senang apalagi saya yang tadinya menyerah. Saat saya melihat harga buku itu, alamak! Murah sekali. Sekitar 12 ribu Rupiah.

Itu kejadian yang tidak pernah saya lupa dalam hidup. Itu adalah sebuah buku yang penting sekali buat saya meski harganya murah. Saya terkesan dengan sikap pegawai itu yang tidak menyerah membantu mencarikan saya sampai ketemu. Harusnya dia tahu harga buku itu di komputer yang dia lihat. Bisa saja dia menyerah dan beralasan buku itu masih belum siap atau alasan lainnya. Dia pasti sudah melihat harganya yang murah maka tidak akan sebanding dengan usahanya mencari. Namun tidak demikian. Dia tetap membantu saya mencarikan. Buat dia harganya murah namun buat saya buku itu tetap penting sekali. Saya ingat juga pernah ada toko buku lain yang saat saya menanyakan kepada seorang pegawai sebuah judul buku, tanpa usaha sama sekali langsung berkata tidak ada. Saya sangat kecewa. Pegawai itu tidak ada usaha mencari di komputer atau mungkin dengan kalimat yang ramah tetapi langsung memutus harapan dengan kalimat judesnya. Saya tidak pernah datang lagi ke toko buku itu.

Betapa usaha pegawai toko yang membantu saya mencari buku sampai ketemu tadi itu membuat saya merenung. Kalau dipikir memang itu tugasnya yaitu melayani pembeli. Namun usahanya itu sangat layak dihargai karena dia tidak pantang menyerah dan tidak semata melihat harga buku yang murah hingga dia malas untuk melayani. Bagaimana dengan saya? Apakah saya juga sudah pernah membantu sesama saya tanpa melihat pamrih? Membantu sesama tanpa berharap suatu saat saya juga akan dibantu jika mengalami kesulitan. Sepertinya ini masih menjadi PR untuk saya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s