Tak Selamanya Jomblo Itu Kelabu


Orang paling dikasihani di negara ini adalah : seorang yang belum menikah. Setidaknya itu pengalaman saya😀

Beberapa waktu saya tentu sering terlihat kemana-mana sendiri. Menonton film sendiri, olahraga sendiri, ke gereja pun sendiri. Maka pertanyaan wajib basa-basi ala ala penduduk  negeri ini, “Sama siapa?” “Pacarnya mana?” “Kok, belum punya pacar?” Paling juara menyebalkannya adalah, “Jangan terlalu pilih-pilihlah…” Errrr… Mari tepuk tangan sambil berdiri. Keren banget pertanyaan-pertanyaan seperti ini *SambilAsahPisau *PisauCukurTapinya. Ditambah pula dengan raut muka yang memandang seolah saya adalah fakir miskin dan anak-anak terlantar yang wajib dipelihara oleh negara.

Tunggu. Penderitaan tidak berhenti di sini. Kalau yang bertanya orang yang lebih dewasa (Misi… Cek, cek 1, 2, 3 : LEBIH TUA, HOEI! TUAK!) seringnya ditambahi, “Om dulu itu menikah umur, bla… la.. bla….” Wah, kotbah yang luar biasa *AmbilBantalGulingBesertaKasur. Mungkin mereka pikir mereka sedang membagikan nasehat jalan emas.

Orang mengukur orang lain dengan pola pikirnya sendiri.

Di negeri ini tersebutlah sebuah teori bahwa salah satu menjadi bahagia adalah dengan menikah (sebelum usia 30 secara khususnya).

“Jangan sampai terlambat menikah, loh.” ; “Kalau menikah terlalu tua, kasian anaknya.” Wow… ini lebih dari mengasihani. Ini sebuah pernyataan yang ingin menjadi tuhan. Kata “terlambat” dan “kasian”, mereka pikir mereka bisa menerbitkan matahari untuk saya dan menghembuskan udara untuk saya hirup?

Saya tentu ingin dicintai, disayangi, diucapi selamat pagi, selamat malam, selamat makan dan sejumlah selamatan lain. Ingin juga terkadang dicemburui dan sejumlah pengharapan lain yang mengolah rasa bernama : cinta. Saya pun telah beberapa kali menjalin relasi dan jatuh bangun dalam kegagalan. Namun garis kesendirian masih senang menemani. Sayapun telah menerima keadaan ini.

Bahwa menjadi bahagia tidaklah selamanya dengan menikah. Saya punya impian yang saya ingin wujudkan. Saya punya pengharapan lain. 

Di dalam otak saya isinya bukan “Menikah, menikah dan menikah…” Meski suatu saat juga ingin. Setidaknya belum menjadi prioritas sekarang. Saya sedang menikmati era kebebasan saya. Ini era yang saya nantikan sejak kecil, menjadi lelaki dewasa yang bebas dan menjalani hidup dengan berkarya.

Prioritas saya saat ini adalah berkarya. Ini impian saya sejak kecil. Sekali lagi : berkarya.

Maka tak selamanya jomblo itu kelabu🙂

 

Lagu “Kidung” ciptaan Chris Manusama ini memberikan penghiburan buat saya pagi ini (dengan mengganti kata “mendung” dan “kidung” dengan “jomblo” *Sisiran. Ada beberapa versi, silahkan menikmati😉

 

2 thoughts on “Tak Selamanya Jomblo Itu Kelabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s