Pada Suatu Hari Saya Tidak Bisa Berhenti Menangis


Siang itu saya pulang ibadah. Dalam ibadah itu, sebuah Kuasa Yang Maha menyentuh hati saya dengan lembut. Saya menangis. Saya merasakan saya dicintai. Melalui lagu-lagu pujian, penyembahan dan Sabda saya merasa diajak berbicara dari hati ke hati.

Memang kala itu, tanpa saya sadari, ternyata saya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Tidak ada satupun yang tahu. Saya memilih untuk tidak membicarakannya dengan siapapun. Saya merasa menjadi orang yang tidak pernah dipilih untuk dicintai dan selalu ditinggalkan. Saya beberapa kali mencintai seseorang namun saya gagal dan ditinggalkan. Mereka tidak memilih saya.

Saya mengasihi dua sahabat saya yang paling dekat namun akhir tahun ini mereka akan menikah. Tentu mereka akan mempunyai kehidupan yang baru, mereka punya keluarga dan saya bukan lagi bagian dalam hidup mereka. Saya sedih dan merasa ditinggalkan keadaan. Saya sedih.

Kesedihan saya itu hanya ada di dalam hati. Perasaan ditinggalkan itu mulai saya lupakan. Biarkan itu tertanam dengan pahit di dasar hati paling dalam di hati saya. Tidak boleh ada yang tahu perasaan itu karena memang perasaan itu tidak boleh ada. Harus saya buang jauh. Terlalu melankolik dan dramatik jika perasaan “saya tidak dicintai dan selalu ditinggalkan” saya teruskan.

Rupanya, Roh Kudus lebih suka mengungkitanya, untuk dia cabut dengan sakitnya dan diganti dengan benih yang lebih baru. Saya diingatkan kembali akan perasaan itu. Luka itu menguar dan saya merasa sakit. Sakit sekali. Ternyata kesakitan itu untuk disembuhkan. Saya merasa diajak berbicara. Saya merasa diajak komunikasi tentang perasaan itu. Dikeluarkan kembali perasaan itu untuk dipulihkan, untuk diobati luka-lukanya agar sembuh seketika.

Sepulang dari gereja saya mengendarai motor dengan menangis.

Saya tidak bisa menghentikan tangisan keharuan itu. Saya terus menangis sambil mengucap, “Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih sudah mencintai aku. Terima kasih. Aku merasakannya. Terima kasih…”

Saya merasa dipeluk, saya merasa sedang disembuhkan. Luka-luka saya dibalut dan dipulihkan kembali. Saya merasa dicintai Tuhan. Saya sungguh merasa sangat dicintai, tepatnya. Tentu saya mengingat juga bahwa keluarga saya sangat mencintai saya dengan dalam.

Beberapa perempuan tidak memilih untuk mencintai saya, beberapa sahabat memilih untuk meninggalkan saya tetapi Tuhan memilih untuk tetap mencintai saya.

Bagaimana saya tidak berhenti menangis haru?

One thought on “Pada Suatu Hari Saya Tidak Bisa Berhenti Menangis

  1. Bapa kita itu baik. Mau kita sukses atau gagal. Mau kita keren atau jelek. Mau kita dicintai orang atau ditinggalkan. Dia tetap mencintai bahkan menerima kita apa adanya kita. Bahkan nggak cuma sampai di situ, Dia juga membuat kita berharga. Yup, kita biji mata-Nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s