Lelah Menjadi ‘Marsinah’


Sudah bebebrapa bulan, ada satu pemikiran yang muncul. “Saya lelah menjadi buruh upahan”

Buruh upahan masa kini bukan hanya pekerja pabrik tetapi kita semua yang bekerja di ‘ladang’ orang lain. Kita semua yang menjadi pegawai, bekerja di kantor milik orang lain. Saya simbolkan sebagai ‘Marsinah’. Siapa Marsinah? Cari tahu di sini atau di sini.

Seringnya menjadi ‘buruh’ itu melelahkan. Harus loyal, setia dan melakukan semua sesuai aturan kantor. Kita mendapat ‘upah’ yang bisa saja stabil atau penghargaan yang bisa saja hanya begitu-begitu saja. Sementara kita bisa melihat ‘majikan’ kita dengan modalnya atau kekuasaanya bisa melakukan banyak hal dengan harta mereka, termasuk menyuruh kita ini, menyuruh kita itu. Karena mereka yang punya uang, mereka yang ‘mengupah’ kita. Kita tidak bisa ‘break the rule’. Ada perasaan sungkan, bahkan bisa menajdi melanggar semua aturan.

Beruntung saya tidak mengalami aturan yang seketat itu. Saya mendapatkan kebebasan, banyak kebebasan. Namun akhir-akhir ini saya baru menyadari bahwa dengan kebebasan, dengan fasilitas dan dengan waktu-waktu yang fleksibel itulah ‘penjara’ saya. Saya menjadi semakin ‘sungkan’ saat saya ingin keluar, saya merasa punya tangung jawab yang besar yang saya pikul untuk masa depan ‘pabrik’ ini untuk pekerjaan-pekerjaan ‘pabrik’ ini karena saya sebagai ‘buruh upahan’. Sementara sang majikan bisa berkembang dengan jalan apapun yang mereka mau karena mereka bukan ‘upahan’.

Saya bosan menjadi ‘upahan’. Kata Papa saya dulu waktu awal-awal kuliah, “Jadi orang, jangan terus jadi pegawai. Kembangkan diri suatu saat nanti agar tidak terus jadi pegawai.” Inilah saat saya bosan menjadi pegawai. Saya tidak mau lagi bekerja di ‘ladang’ orang lain. Saya mau ‘ladang’ saya sendiri.

Namun selalu saja alasan klasik yang menghantui. Pertama : Keberanian. Kedua : modal. Saya sedang dalam masa menggumulkan kedua hal ini. Apakah saya berani?Apakah modal saya cukup? Apa yang sebenarnya saya inginkan di dalam hidup? Saya ingin menjadi penulis dan pembuat film. Saya bosan jadi ‘buruh upahan’ yang harus selalu nurut apa kata majikan, yang apa-apa harus memerhatikan jasa majikan atas kita sebelumnya. Saya ingin punya ladang sendiri, saya ingin menggarap ‘sawah’ saya. Boleh kan, petani atau buruh bermimpi punya sawah atau pabriknya sendiri? Tidak hanya bermimpi, saya ingin segera mewujudkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s