Pada senja, ia ada. Pada fajar dia berhias.


Orange is my life. Saya selalu menyebutnya begitu.  Saya cinta orange.

Ada simbol, ada alasan, petanda, pertanda yg menghasilkan tanda.   Orange bagi saya adalah sesuatu yg menyegarkan.  “Orange squash” segar, kan? Keluar dari ketegangan, menjadi relaks.  Orange jg hiburan. Saya tersenyum melihat orange, karena dia sangat bersahabat. Akrab. Karib. Merangkul. Tanpa jarak.

Semangat hdp saya, dimulai saat orange itu mulai ditorehkan. Pada senja, ia ada. Pada fajar dia berhias. Dia pendamping alam. Warna orange, hiburan bagi tiap hati yg terluka. Dia tdk gelap. Lebih dari sekadar terang. Sering dicap “norak”.

Orange mungkin tak seberani merah. Tak semesterius hitam. Sentimentil? Mungkin. Yang jelas, dia fanatis. Setia di ujung senja.

Orange, mari kurelakan filosofismu masuk ke dalam sanubari. Menyegarkan hdpku, kubagi pd dunia.

2 thoughts on “Pada senja, ia ada. Pada fajar dia berhias.

  1. jadi semakin cinta orange dan tidak salah pilih setelah membaca filosofi-mu🙂 aku penggemar warna-warna soft dan mulai menyukai orange ketika euphoria piala dunia 2010 dimana disana bermain tim oranje yang aku gemari. sejak itu aku menjadi penyuka orange🙂

  2. haha….selamat mencintai orange:)
    Kalau kamu ke Belanda pasti kamu suka. Itu seperti surga. begitu kata sahabatku yg hampir 10 tahun tinggal di sana:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s