SIAPA BUTUH BAHAGIA, BUTUH UANG ?


85571379

Lewat beberapa waktu lebih lulus kuliah. Berbagi dan bertemu dengan sahabat-sahabat kampus, sebuah hal yg sangat membahagiakan. Melihat canda dan tawa mereka seperti baru memasuki kepala 20 lagi. Namun yang terpenting; cerita-cerita mereka yang paling aku tunggu. Beberapa sahabat kulihat menikmati penghasilan mereka. Sedikit nakal, melirik-lirik ponsel mereka. Yah, walaupun aku bukan orang yang melihat kesuksesan seseorang dari ponsel (terlalu picik), tapi boleh, dong, sedikit usil melihat ponsel dan sedikit usil lagi menebak-nebak berapa ya penghasilan mereka. Memang beragam sekali, apa yang sedang mereka jalani sekarang. Sahabat-sahabatku kebanyakan orang yang cerdas😉 sehingga walaupun mereka masih tergolong ‘ikut orang’ tapi mereka sangat disayang oleh atasan mereka.

Berpikir sejenak, melihat kebahagiaan sahabat-sahabatku. Penghasilan mereka yang lumayan memang telah membuat mereka bahagia. Ponsel
canggih masa kini, bisa makan di mana saja atau mungkin kendaraan yang sudah bisa dibeli dengan kocek mereka sendiri. Hmm, aku bergumam… memang membahagiakan punya penhasilan yang lumayan. Satu hal lagi yang aku pelajari, setelah melihat lebih dalam dan tidak menilai materi yang mereka punya.

Sahabat-sahabatku yang sekarang telah ‘enak’ masih saja tidak berubah. Sama menyenangkannya seperti dulu. Mereka tidak lantaran merubah penampilan menjadi mentereng ala ‘esmud’ (eksekutif muda), masih saja berbicara tentang kehidupan yang sama, tidak lalu menjadi matrialistis, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan dan moralisme. Ada
diantara mereka pun tidak terlalu puas dengan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, tapi lebih memikirkan banyak hal yang lebih penting dan berarti. Kesimpulannya : mereka orang-orang yang tahu bagaimana harus bahagia, bukan dengan uang atau penghasilan besar semata.

Sedikit nakal lagi, tiba-tiba terpikir untuk mencari ‘kehidupan yang lebih baik’. Mungkin bisa membuatku setiap hari bisa nonton film di XXI, atau membawa keluarga jalan-jalan ke Bali, dan mengendara mobil nge-trend ala esmud, sepertinya menyenangkan. Kencan dengan gadis-gadis cantik yang kusuka, tentu bukan jadi masalah, mereka bisa ‘bahagia’ dengan
segala fasilitas yang kupunya. Aku rasa, aku mampu punya penghasilan selangit dengan segala yang ada padaku (kali ini tanduk dan taring setan-nya muncul).

UPS! Segera aku pikirkan lagi ide nakal ini. Apakah uang banyak, bisa membuatku bahagia? BELUM TENTU. Bisa saja aku menjadi lupa baca Alkitab tiap hari, lupa mendoakan keluargaku tiap hari, males ke gereja, karena mungkin lupa cara untuk menangis dan memohon-mohon sama TUHAN. Semua hal bisa aku dapatkan dengan mudah, kalau aku punya banyak
uang. Jadi ingat satu kalimat bijak : Uang bisa membeli banyak hal-hal, tapi tidak kebahagiaan.

Kebahagiaan enggak selamanya karena aku punya banyak uang. Penghasilan yang aku dapatkan dari senang-senangku tiap hari (baca: bekerja), menurut TUHAN mungkin saat ini cukup bagiku. Meski sering aku tidak bisa menabung, tapi aku selalu menikmati kebahagiaan setiap hari, karena aku memilihnya.
Memang kebahagiaan itu yang bisa membuat hanyalah diri kita. Bukan orang lain, apalagi uang. BERSYUKUR SENANTIASA dengan segala pemberian TUHAN, MEMBUATKU BAHAGIA setiap hari.

Ah, apalah gunanya punya ponsel ngetrend, nonton XXI tiap hari, tamasaya, punya mobil mentereng, kalo tiap hari aku selalu punya masalah dan enggak bahagia.

One thought on “SIAPA BUTUH BAHAGIA, BUTUH UANG ?

  1. Hmmm, tulisan yang manis. Terima kasih telah berbagi. Saya juga ada menulis topik serupa tentang mencari kebahagiaan dan kebermaknaan dalam entri saya yang berjudul Being Superhero.

    Salam kenal, dan sampai jumpa lagi.

    Lex dePraxis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s