Menikah, Pernikahan, Perselingkuhan dan Ketakutan


sb10069793ai-001

Mamaku bilang, selama belum menikah, jangan terpaku pada orang yang sama terus. Buka mata lebar-lebar ke sana kemari, supaya nanti waktu menikah bosen dan enggak bakal main mata. 

Akhir-akhir ini hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang akan mempersiapkan pernikahan. Paling dekat, tanteku yg akan menikah dengan pria kebangsaan Belanda. Aku masuk dalam jajaran panitia. Meski enggak seribet Papaku yg jadi ketua atau om, tante atau mamaku yg lebih ribet, tapi aku juga lumayan punya andil🙂 Benar. Smeua terasa ribet sekali, dan syukurlah hampir selesai smua persiapannya.

Orang-orang terdekat juga sedang menyiapkan rencana pernikahan dalam beberapa tahun ke depan. Saya melihat mereka begitu concern dengan kesiapan finansial atau hal-hal materi lainnya. Mungkin saya tidak terlalu tahu kesiapan mental mereka. Tapi yang jelas, saya kok jadi mikir sesuatu ya, ehm… pasti susah sekali membangun suatu keluarga. Dibutuhkan banyak energi, konsentrasi, kesabaran dan banyak sikap-sikap dewasa lainnya. kembali ke candaan mamaku, kalau sebelum menikah mesti buka mata lebar-lebar, mencari mana yang tepat dan yang paling bisa menjadi teman seumur hidup kita. Aku sampai seperempat abad ini belum memutuskan apapun siapa yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktifitas kreatif-ku, atau pemikiran-pemikiran untuk impianku dan banyak hal lain lagi yang kurang berbau ‘cinta’. Bukannya pesimis, tapi memang sulit sekali aku untuk memulai ‘lagi’. Setelah 7 tahun lalu dan benar-benar sulit untuk aku lupakan.

Sering juga akhir-akhir ini, aku malah memperhatikan sekelilingku, tentang bagaimana sebuah hubungan punya liku-liku sendiri. Dalam keadaan sudah menikahpun, sangat terbuka sekali untuk sebuah ‘hubungan’ lain. Entah itu teman biasa, teman spesial atau teman zinah di hati, di dunia maya atau bahkan di dunia nyata. Aku bukan berasal dari keluarga brokenhome. Tapi sepupuku pernah mengalami perceraian orang tua. Aku juga pernah tinggal serumah dengannya. Rasanya pedih dan menyakitkan. Aku benar-benar bisa merasakannya. Karena itulah, aku tidak pernah punya statement bahwa perceraian adalah penyelesaian yang terbaik (*mengutip para selebritas kita yang sering berkata seperti ini kalau sedang bercerai). TIDAK. Itu BODOH dan berdampak seumur hidup. Aku juga tidak terlalu tahu penyebab orangtua sepupuku itu bercerai, yang jelas apapun alasannya itu sangat menyakitkan.

Kupikir ‘PERSELINGKUHAN’ atau aku lebih suka menyebutnya ‘PERZINAHAN’ adalah penyebab rusaknya kebahagiaan sebuah keluarga. Kepercayaan dari pasangan kita akan hancur hitungan second bila tidak bisa dijaga. Jika itu terjadi dalam pernikahan, sekali lagi itu akan menyakiti anak-anak. Bagaimana jika masih pacaran?Tunangan? atau bahkan hitungan waktu akan menikah? Itulah yang aku takutkan saat ini. Aku memang belum berpacaran saat ini. Hanya saja : andaikan aku punya pacar yang selingkuh, seperti yang aku sering lihat dalam reality show di TV, aku tentu akan kecewa. Aku akan sakit hati, bahkan aku bisa tidak mau lagi berpacaran seumur hidup. Itu menyakitkan dan sungguh menyakitkan. Kalau dalam berpacaran saja, bisa melakukan itu, apalagi waktu menikah. Itu berakibat PERCERAIAN…. dan aku (sekali lagi) bisa merasakan apa yang dirasakan sepupuku ;(

Aku berjanji pada diriku sedniri, aku tidak akan sembarangan memilih teman seumur hidupku, terlebih lagi akau akan setia. Kalaupun aku sebagai lelaki masih suka ‘nakal’ (lebih baik aku akui, walaupun nanti tidak terjadi), baiklah biar saja aku akan sama-sama berkomitmen dengan kekasihku : okeh, kita belum menikah dan ini awal buat kita. Kita bebas berhubungan dengan siapa saja, tapi kita akan saling bercerita, tidak ada yang disembunyikan. Kalau saja, kita tidak cocok dan lebih pas dengan orang lain, kita akan berpisah baik-baik. Tidak ada yang disakiti, tidak ada main belakang, tidak ada sembunyi-sembunyi. Sama-sama tahu keduanya. Itu tidak akan terlalu menyakitkan.

 

Setidaknya hal inilah yang bisa aku pikirkan sekarang. Karena aku takut diselingkuhi, aku takut bercerai dan aku mau bahagia. Mungkin aku lebih memilih melajang sekian lama dan mendapat seseorang yang benar-benar pas di hati, daripada terburu-buru karena umur atau apalah….. aku tidak mau bercerai, aku tidak mau selingkuh atau diselingkuhi, kenyataan yang menyakitkan sedari awal lebih baik daripada kenyaan menyakitkan di akhir

Aku kembali dalam aktifitasku dan menyadari: fiuh…. ketakutanku kumayan berat yah,.. ini belum pacaran padahal… (atau aku sedang takut pacaran bahkan takut menikah???? entahlah…..)

200332219-001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s