NIA DINATA: PEREMPUAN IDOLA


me and @tehniadinata and @vivianidris 

Ketika kita menyenangi satu bidang tertentu, kita tentu punya seseorang yang kita idolakan dalam bidang itu. Seseorang yang kita anggap punya kualitas dalam bidangnya. Aku dari dulu suka sekali dengan film. Aku bercita-cita bisa membuat film Indonesia yang memenangkan penghargaan ‘Academy Award’. Ini bukan mimpi yang berlebihan, bukan? Maka sejak bangkitnya Film Indonesia, di era “Kuldesak” aku makin semangat dan optimis bisa mewujudkan cita-citaku.

 

Sebuah film yang menggetarkan hatiku sampai sekarang adalah “Ca Bau Kan”. Aku membaca novelnya lalu menonton film-nya. Aku suka sekali bagaimana sang sutradara menerjemahkan novel itu ke dalam media film, aku suka sekali pemilihan talent, setting, dan proses pembuatannya. Betapa detail sutradara film ini, sampai membuatku kagum sekali. Aku kemudian mencari tahu siapa sutradara dan orang-orang di baliknya.

 

Nia Dinata, seorang sineas perempuan. Nama ini yang kemudian membuatku termotivasi untuk belajar banyak hal yang belum aku ketahui di dunia film waktu itu. Aku kemudian mengikuti perjalanan karyanya. Arisan (Penulis dan Sutradara), Biola Tak Berdawai (Produser), Janji Joni (Produser), Berbagai Suami (Penulis dan Sutradara), Quicky Express (Produser).

 

Wow! Seorang Nia Dinata selalu mengangkat isu-isu yang tidak banyak orang sadar. Isu-isu ini sebenarnya fakta yang terjadi dalam masyarakat, penting untuk diangkat agar orang sadar betapa pentingnya untuk dipikirkan solusinya. Ca Bau Kan, Isu etnis Tionghoa ; Arisan, isu kehidupan metropolitan ; Berbagi Suami, isu poligami. Film-film produksi Kalyana Shira selalu menjadi trend setter dan membuat banyak mata terbelalak, banyak telinga mendengar dan menghadirkan diskusi-diskusi di negeri ini. Alasan-alasan inilah yang membuatku ingin bertemu dengannya, bahkan kalau ada kesempatan aku ingin bekerja sama memproduksi sebuah film yang bisa memenangkan ‘Academy Award’.

 

Beberapa waktu lalu, aku mendapat kesempatan, bertemu dengan Nia Dinata. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Setidaknya tidak secepat ini. Dia menjadi mentor dalam ajang workshop film dokumenter. Aku berinteraksi langsung dengan orang yang selama ini selalu menginspirasiku. Aku sungguh ingin bekerja sama dengannya. Ini juga bukan sesuatu yang mustahil, bukan? Aku yakin, suatu saat nanti. Aku akan segera menuliskannya lagi di sini, tentang pertemuanku berikutnya dengan perempuan idolaku, Nia Dinata. (*selesai ditulis Selasa, 22 juli 2008)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s