BAGAIMANA KALAU MISALNYA, AKU BERSAMA DENGAN SESEORANG, TAPI DIA SAMA SEKALI TIDAK MENGANGGAPKU?


 

 

 

Setiap orang bisa belajar dari orang lain. Tidak memandang siapa orang itu. Pejabat atau gelandangan, buyut atau anak baru lahir. Aku juga belajar sesuatu dari seorang anak yang baru lulus SMA. Aku sudah lama kenal anak ini, tapi belum pernah ngobrol. Kemarin kami terlibat dalam obrolan basa-basi, mulanya. Namun kemudian masuk dalam diskusi tentang kehidupan dan kondisi batin masing-masing. Dia banyak berbagi tentang kehidupan ‘baru’-nya. Bagaimana pertama dia mengenal Sang PENCIPTA ‘secara pribadi’ sampai perasaannya masuk lingkungan baru. Dari ceritanya, aku seperti bercermin. Ternyata kami sama-sama golongan orang bertemperamen ‘Melankolik’.

 

Sesuatu yang menjadi baham pemikiranku akhir-akhir ini adalah: “Aku tidak suka berada dalam posisi sendiri”. Mulai tahun ini, aku merasa  hubungan batinku dengan dua sahabatku sudah putus. Mereka punya sudah punya ruang privasi sendiri dan kehidupan baru yang akan mereka bangun. Betapa susahnya aku menyesuaikan kondisi seperti ini. Ditambah pula, aku masuk dalam lingkungan kerja, yang mengharuskan selalu sendirian, selama berjam-jam. Aku yang terbiasa bekerja dengan banyak orang (berinteraksi dan berkomunikasi), harus berhadapan hanya dengan komputer dan perangkat elektronik lain. Tentu saja bukan sesuatu yang mudah yang harus aku lewati.

 

Anak yang aku ceritakan tadi mengeluarkan satu statement yang membuka hatiku. “Oh, kakak sering sendirian, ya?…. Ehm,… Jadi punya banyak waktu sama TUHAN, dong!…. Kalo kita bareng sama banyak orang, biasanya kita sering lupa sama PENCIPTA kita…..”

WOW! Aku baru menyadari sesuatu. Sejak aku sering sendirian, aku mulai terikat dengan ‘saat teduh pagi’, sih…

 

Anak ini kembali mengingatkan, “Hei, kak, ga boleh bilang sendiri. Kita tuh minimal 2 orang: Kita dan Tuhan…”

Betapa sering aku melupakan hal ini. Selama ini aku menganggap aku hanya punya ruang privasi sendiri. Ini berarti, aku sama sekali tidak menganggap keberadaan PENCIPTA yang selalu ada bersamaku. Bagaimana kalau misalnya, aku bersama dengan seseorang, tapi dia sama sekali tidak menganggapku? Tentu saja aku akan kecewa, bahkan sakit hati.

Hey! Selama ini PENCIPTA selalu bersama denganku.

 

 

“Do not be afraid–I am with you! I am your God–let nothing terrify you! I will make you strong and help you; I will protect you and save you. I am the LORD your God; I strengthen you and tell you, ‘Do not be afraid; I will help you.’  ISAIAH 41.10,13

 

(*ditulis Kamis, 17 juli 2008)

 

 

One thought on “BAGAIMANA KALAU MISALNYA, AKU BERSAMA DENGAN SESEORANG, TAPI DIA SAMA SEKALI TIDAK MENGANGGAPKU?

  1. Kadang-kadang memang sih perasaan sendirian itu menyiksa banget. padahal, sebenarnya, Dia selalu menunggu kita, menyambut Dia. jadi, sebenarnya, kita tidak pernah sendirian. Kita terlalu berharga untuk Dia.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s