Aku Di Bibir Pantai


Di sini aku melihat pantai. Bebas, sebebas-bebasnya tanpa belenggu rantai. Tak peduli rutinitasku sejenak menjadi lalai. Asal dukaku pergi tercerai berai. Aku mencari sebuah mahligai. Maka di pantai inilah aku memandang sambil berandai-andai.

Kududuk memandang langit di sini. Telapakku menginjak pasir dengan berani. Biar kotor aku tak peduli. Kukumpulkan duka menjadi koloni. Siap kubuang segala sakit di sanubari. Setelah itu biarlah aku mendapat konpensasi. Tentu kebahagiaanlah yang ingin aku raih, biar masuk ke dalam diri.

Hari ini laut kusambangi. Tak mau lagi kuingat yang sakit-sakit apalagi beragam duri. Kalau bisa setiap kurasa sakit, aku pergi kemari. Setelah kukumpulkan lelah dan perih sampai satu kompi. Biar semua masuk ke dalam samudera bagai komiditi.

Semua orang terlalu membuat sakit hati. Hingga terasa pula di dalam jasmani. Kalau dihitung tak cukup dengan jari. Gesekan rasa membuncah menggenangi intuisi. Tak habis dikupas dengan investigasi. Kalau hati ini bisa merasa seperti kulit, mungkin sudah penuh dengan iritasi. Semua berbaris menjadi sebuah ironi. Semua rasa sakit ini siap diinventarisasi. Biar habis itu koloni! Semua hancur karena sebuah invasi.

Hati yang sering mendapat intimidasi. Khianat bahkan telah biasa dilalui. Baik sekecil intonasi, sampai sebesar pulau sesak berisi duri. Kalau saja bisa kuraih ionosfer, aku tentu bisa melesat semudah bidadari. Tapi apalah daku yang hanya sering bisa menyesali? Segala yang telah terlambat dan rusak di dalam esensi. Kini aku kosong tanpa isi.

Apakah kebahagiaan bisa dengan mudah mendapat eskalasi? Lalu seenak meledak dalam sebuah erupsi. Tentu aku tak masalah jika terus disakiti. Karena di dalam inti, bahagialah yang telah aku punyai. Namun apalah hamba kini penuh arti? Bagai hama yang telah mendapat eradiksi. Musnah total tak bersisa apa-apa lagi.

Maka aku datang mencari energi. Kuhadapakan diri memandang laut di sini. Pantai, pantai, pantai! Berilah aku sedikit dramatisasi. Paling tidak hatiku saja yang kini bisa merajai. Aku lelah menelan duri. Aku bosan berteman benci. Sakit dan pedih telah sering kutampi. Di sini aku mencoba lagi mempercayai. Biar bahagia masuk kembali memenuhi.

Pantai adalah pertemuan sejati. Kala rindu mencoba menjadi mahasuci. Pertemuan daratan dan lautan penuh arti. Mereka melepas rindu meski tak dapat saling memiliki. Elemen tanah dan air yang menghalangi. Maka aku senang memperhatikan dan menikmati. Aku merasa tak sendiri. Pertemuan laut dan dataran memang sungguh berarti.

Kubuang sakit dan perih yang lama kusemai. Aku basuhkan sajalah dengan samudera sebagai mantri. Mungkin dia lebih ahli. Sakit dan perih di dalam sini, kubuang pula bersama jasmani. Biar musnah keduanya, tiada arti lagi. Pantai, pantai, pantai! Kenang aku yang menyatu di sini. Aku tidak akan pernah menyesali. Di bibir pantai aku pernah menikmati bibirmu, mahadewi. Di bibir pantai kau terang-terangan telah mengkhianati. Di bibir pantai pula, semua aku akhiri, hari ini.